Hai.. hai...
Apabila kamu melihat tulisan ini berarti kamu belum terdaftar sebagai warga KL. Ayo gabung dengan Daftar terlebih dahulu, tentunya kamu akan menemukan banyak teman untuk saling berbagi informasi ataupun solusi di forum ini.
[Sejarah] Jakarta tempo Doeloe

+ Reply to Thread
Hal. 1 dari 3 1 2 3 TerakhirTerakhir
Menampilkan 1 s/d 10 dari 22
  1. #1
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default [Sejarah] Jakarta tempo Doeloe

    Sebelumnya sowri kalo tulisan ini gw masupin ksini, soalnya gw cari2 forum sejarah di KL kayaknya gada.
    Gw dapet artikel mengenai serba-serbi Jakarta Tempo Doeloe yg cukup menarik utk disimak (walaupun tanpa gambar)
    Semoga bisa memperluas pengetahuan kita.
    Sumber dari sini

    Harmoni Tahun 1952

    Maret 26, 2008 oleh alwishahab



    Inilah simpang empat Harmoni yang sekalipun namanya telah diubah menjadi Jalan Majapahit, Jakarta Pusat, tapi nama Harmoni masih tetap melekat hingga kini. Foto ini diabadikan tahun 1952 ketika trem listrik (seperti terlihat dalam foto) masih menjadi transportasi utama di Ibu Kota. Terlihat trem tengah mengangkut penumpang dari Jatinegara menuju Pasar Ikan melewati Harmoni. Nama Harmoni diambil dari rumah bola yang merupakan tempat hiburan bergengsi untuk para bule. Sambil meminum kopi dan menikmati dansa dansi di lantai pualam di antara para meneer (tuan Belanda) melakukan transaksi dagang di tempat ini.

    Dalam tahun 1950-an, penduduk Jakarta yang sebelum Perang Dunia II (1942) hanya berpenduduk 500 ribu, tiba-tiba melonjak menjadi tiga kali lipat. Tidak heran kalau Harmoni yang semula merupakan kawasan elite, diramaikan oleh kendaraan. Mobil-mobil itu ketika foto ini diabadikan masih didominasi mobil dari Amerika dan Eropa. Harganya sekitar Rp 500 ribu.

    Mobil Jepang belum nongol. Demikian sepeda motor seperti Vespa (Italia) dan Harley Davidson (AS). Becak kala itu masih bebas berkeliaran ke segenap penjuru Jakarta. Tidak heran kalau masyarakat pedesaan banyak yang mengadu nasib di Jakarta menjadi penarik becak. Naik becak dari Pasar Senen ke Pasar Baru ongkosnya hanya sekitar lima perak. Sedangkan naik trem hanya setengah perak (50 sen).

    Di sebelah kanan Harmoni yang banyak terlihat pepohonan terletak Jalan Jaga Monyet menuju ke Grogol dan terus ke Tangerang. Dinamakan demikian, karena pada masa VOC untuk menghadapi serangan dari pejuang-pejuang Islam Banten, Belanda membangun pos penjagaan yang kini kira-kira berada di Bank Tani dan Nelayan (BTN). Karena para serdadu VOC lebih banyak terusik oleh monyet-monyet yang banyak berkeliaran, dan binatang ini sering mengganggu prajurit maka dinamakan: Jaga Monyet. Yang kemudian menjadi nama jalan. Sayangnya nama tempat yang bersejarah itu diganti menjadi Jl Sukardjo Wiryopranoto.

    Di sekitar Harmoni– terutama daerah Rijswijk (Jl Segera) dan Noordwijk (Jl Juanda)– sejak masa Raffles saat Inggris berkuasa dijadikan sebagai kawasan kulit putih. Raffles menggusur pekuburan dan memindahkan toko dan warung milik Cina. Di sini berdiri toko-toko yang menjual busana yang didatangkan dari Paris dan London. Di dekat Harmoni yang disebut Molenvliet (kini Jl Hayam Wuruk) terdapat sebuah hotel yang paling anggun di Jakarta: Hotel des Indes. Pada awal 1970-an hotel yang dulu banyak ditempati korps diplomatik dan tamu asing, dibongkar dan dijadikan pertokoan Duta Merlin.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 10:49 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  2. #2
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Korupsi Bangkrutkan VOC

    Maret 26, 2008 oleh alwishahab

    Sejak terjadi skandal suap Jaksa Urip Tri Gunawan, masyarakat semakin santer meminta Kejakasaan Agung bertindak tegas dan membersihkan seluruh aparatnya yang melanggar hukum. Kasus suap itu telah mencoreng korps kejaksaan yang memang banyak dikeluhkan masyarakat.
    Sang jaksa telah tertangkap basah ketika menerima segeblok fulus senilai Rp 6 miliar dari Arthalyta, wanita yang menjadi tangan kanan taipan Syamsul Nursalim, bekas pemilik BDNI, pengeruk dana BLBI terbesar.

    Dari kejadian tersebut orang makin percaya bahwa semua perkara hukum bisa dibeli dan diatur. Kita masih ingat Adelin Lies, terdakwa pembalakan liar yang bebas begitu saja di Pengadilan Negeri Medan.

    Pada masa kolonial pengadilan disebut landraad. Di landraad juga kerap terjadi pengadilan penuh tipuan. Bekas gedung landraad itu masih berdiri kokoh dan kini menjadi Museum Sejarah Jakarta. Seabagai contoh adalah pengadilan Pieter Erberveld yang dieksekusi (April 1922) karena dituduh ingin memberontak, diduga karena masalah tanah.

    Ketika itu Gubernur Jenderal Zwaardecroon berniat membeli semua tanah yang terletak di bagian timur gereja Portugis (sebelah kiri staskonb KA Beos), yang rupanya milik Pieter. Karena pemilik menolak menjual tanahnya di kawasan elite Batavia itu, direkayasa pengadilan seolah-olah dia hendak memberontak.

    Rupanya keinginan untuk memiliki telah terjadi di Jakarta sejak masa VOC, termasuk para gubernur jenderal. Seperti gubernur jenderal Jacob Mossel (1750-1761), yang membeli tanah sekitar Senen-Gunung Sahari sampai Waterlooplein (Lapangan Banteng). Sementara, gubernur jenderal Albertus Parra (1761-1779) membangun vila mewah di Weltevreden yang kini menjadi RSPAD Gatot Subroto.

    Pada Agustus 1745 Gubernur Jenderal Van Imhoff membeli tanah di Kampung Baru yang kemudian ia rubah namanya menjadi Buitenzorg dan kini menjadi Istana Bogor. Ketika Van den Parra hendak dilantik dia meminta supaya para bupati menghadiri atau mengirimkan utusan.
    Pesta pora yang sangat mewah bukan hanya sering terlihat di Batavia, tapi juga di tempat-tempat VOC memiliki kantor cabang seperti Persia, Jepang, India dan Srilangka. Bisa dibayangkan berapa biaya dinas yang dikeluarkan untuk itu. Masih lusinan lagi gubernur jenderal dan anggota Dewan Hindia yang hidup kelewat mewah.

    Akibat hidup mewah dan korupsi yang kelewat batas, maka pada 1799 kongsi dagang VOC dinyatakan bangkrut. Imperium yang pada awalnya memonopoli perdagangan dan rempah-rempah dan memiliki armada kapal di hampir seantero dunia itu meninggalkan hutang 140 juta gulden. Nilai uang Belanda ini nilainya lebih tinggi dari dolar yang kala itu belum punya arti apa-apa.
    Merasa datang dari tempat yang jauh dan seolah-olah hidup dalam ‘pembuangan’ semacam Batavia, sebagai konpensasi mereka menjalani hidup yang sangat mewah. Tapi, karena gaji tidak mencukupi, korupsi dan kolusi merupakan salah satu cara yang mereka tempuh.

    Bayangkan, seorang nyonya Belanda atau nyai untuk keluar runah saja harus diiringi lima budak belian. Ada yang khusus untuk memayungi, membawa tempat sirih, tempolong untuk meludah saat nyirih, penggotong tandu dan khusus untuk menjaga serta melayani putera-puterinya. Budak-budak itu didatangkan dari Andaman, Malabar, Malaka, dan Goa, dengan biaya sangat mahal. Ada juga budak-budak lokal yang kebanyakan dari Bali.
    Masyarakat elite Belanda ketika itu juga membangun vila-vila di luar kota, seperti di Ancol dan Molenvliet (Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk). Vila-vila itu memiliki puluhan dan konon ratusan kamar tempat menginap para budak. Banyaknya budak menjadi simbol kemakmuran seorang pejabat VOC. Di antara para budak itu ada yang mereka jadikan pemain orkes untuk mengiringi mereka makan malam dan pesta-pesta meriah.

    Willard A Hanna, penulis Amerika, dalam Hikayat Jakarta menyebutkan, bagi masyarakat Eropa kegiatan yang paling hidup saat itu adalah persaingan dalam memperagakan kekayaan. Kesempatan utama untuk peragaan kemewahan yang sering diperoleh secara tidak halal adalah dengan cara mondar-mandir di beberapa jalan terpilih dan pada hari Minggu dalam kesempatan ke gereja.

    Pendiri kota Batavia, JP Coen, dikabarkan berkolusi dengan Cina kaya raya, Souw Beng Kong. Gubernur jenderal sering mendatangi kediaman kapiten Cina pertama ini sambil minum teh. Souw menguasai perniagaan, perusahaan perkapalan, konstruksi, perkebunan dan pabrik gula. Menurut Lahonda, sejarawan yang bekerja di Arsip Nasional, kolusi antara pengusaha Cina dengan penguasa telah terjadi sejak zamanb VOC. Tapi dia menilai kolusi itu masih dalam batas-batas wajar, karena untuk kemajuan kota Batavia.

    Dalam buku Konglomerat Oei Tiong Ham disebutkan, dengan kedudukannya sebagai penarik pajak dan kesempatan untuk monopoli perdagangan, para keluarga peranakan dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Oei Hu Lan, salah seorang anak Oei Tiong Ham, menyatakan, ”Agar bisnbisnya lancar ayah harus memberi hadiah-hadiah pada para pedjabat Belanda.”

    Berbicara soal pajak yang kini sedang digalakkan untuk menutup defisit APBN, Residen PH Willemse (Juli 1929 – Oktober 1931) mengeluh karena ada saja pegawai di tingkat distrik terlibat dalam penggelapan uang pendapatan pajak dan pemalsuan surat penetapan penilaian pajak.
    Mereka sering harus dibawa ke landraad, harus diberhentikan dari jabatannya dan ada juga yang kena hukuman. Misalnya, seorang ajudan kelas dua dari distrik Senen, yang menggelapkan uang pendapatan negara, tak cuma dipecat, tetapi juga dihukum kerja paksa selama enam bulan.

    Kasus itu terjadi pada 1889 ketika VOC sudah bubar dan administri pemerintahan sudah lebih baik. Jadi bangkrutnya VOC karena korupsi menjadi pelajaran bagi kita.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 10:51 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  3. #3
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    De Javasche Bank dan Perang Jawa

    Maret 6, 2008 oleh alwishahab



    Inilah Kantor Pusat De Javasche Bank yang berlokasi di Jakarta Kota. Di zaman Belanda tidak ada bank gemeente (pemerintah). Yang ada bank partikulir alias swasta. Bank pertama yang didirikan adalah De Javasche Bank pada 24 Januari 1828. Ketika itu Perang Diponegoro (1825-1830) tengah berkecamuk. Belanda mengeluarkan ongkos besar untuk biaya perang yang oleh Belanda disebut Perang Jawa.


    Untuk itu Belanda pinjam sana-sini termasuk dari luar negeri untuk biaya perang. Pangeran Diponegoro yang heroik baru dapat ditaklukkan setelah Belanda secara licik mengajak ia untuk berunding di Magelang. Lembaga perbankan dirasakan keperluannya. Hanya komisaris bank yang diangkat oleh gubernur jenderal. Sedangkan presiden direkturnya sejak yang pertama sampai yang terakhir dipilih oleh para pemegang saham.


    Tanpa dukungan cadangan emas, De Javashe Bank yang tahun 1953 diambil alih oleh pemerintah RI, bank ini mengeluarkan uang kertas dan meminta masyarakat menukarkan uang emasnya. Tentu saja masyarakat tidak mempercayai dan lebih percaya menyimpan uang di bawah bantal. Apalagi ketika itu masyarakat masih menganggap bunga bank adalah haram. Ketika de Javasche Bank diambil alih pemerintah, gubernur jenderal pertamanya adalah Mr Syafrudin Prawiranegara.


    Dia dikenal dengan julukan gunting Syafrudin karena menggunting uang kertas seperti lima gulden menjadi dua setengah gulden. De Javasche Bank merupakan perusahaan swasta yang modalnya berasal dari tiga puluh empat pemegang saham. Di era selanjutnya de Javasche Bank diberikan kuasa untuk menjadi perusahaan terbatas (PT) (Limited Liability Company) yang ketika itu disebut Naamlooze Venootschap (NV) berdasarkan ketetapan Peraturan Perdagangan (Commercial Code) yang dikeluarkan di Buitenzorg (Bogor) pada 16 Maret 1881.


    De Javasche Bank yang kini menjadi Bank Indonesia sejumlah petingginya kini tengah menghadapi masalah. Mereka kini tengah dimintai keterangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehubungan aliran dana Rp 100 miliar ke sejumlah anggota DPR, para aparat hukum dan pengacara. Sebagian di antara mereka sudah ditahan dan gonjang-ganjing BI yang sudah berlangsung lebih sebulan jadi isu utama, cukup goyahkan ekonomi dan cadangan devisa RI turun dua juta dolar AS. Kini gedung BI menjadi museum Bank Mandiri.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 11:05 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  4. #4
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Boplo Cikal Bakal Menteng

    Maret 26, 2008 oleh alwishahab

    Inilah gedung Boplo akronim untuk Bouwploeg, nama perusahaan real estate yang didirikan arsitek PAJ Moojen (1879-1955), ketika pada tahun 1920-an sampai 1940-an membangun kawasan Menteng sebagai pemukiman modern pertama di Batavia. Di gedung yang kini menjadi Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat, Moojen selaku direktur utama NV de Bouwploeg, membangun Menteng dengan menjadikannya sebagai kota taman pertama meniru daerah Minerva (laan) di Amsterdam. Nama perusahaan de Bouwploeg oleh lidah Betawi disebut Boplo. Sayangnya nama Boplo telah diganti menjadi Jl RP Soeroso. Kini nama Boplo hanya tersisa untuk stasion KA dan nama pasar di belakangnya.

    Ketika Menteng dibangun perusahaan-perusahaan Belanda terutama bidang perkebunan sedang menghadapi kejayaan hingga banyak berdatangan para pemilik modal dari Belanda dan Eropa. Untuk menampung mereka dibangunlah Menteng yang sampai kini masih tetap merupakan kawasan elite di Jakarta.

    Seorang tokoh arsitek nomor satu Belanda ketika berkunjung ke Batavia sebelum Perang Dunia II menyebutkan Menteng sebagai Europese burt (kawasan Eropa) dan Minerva sebagai lingkungan yang chic (kelas tinggi). Ketika foto ini diabadikan tahun 1920′an, tampak sebuah traktor tengah mengaspal jalan sementara rumah-rumah masih belum banyak jumlahnya.

    Sesudah tahun 1918 bersamaan dengan meninggalnya si perancang, NV de Bourploeg dinyatakan pailit. Sesudahnya gedung ini digunakan sebagai kantor pos pembantu, lalu menjadi tempat AL Jepang pada saat Perang Dunia II. Sesudahnya dimanfaatkan oleh Staatspoorweg (jawatan Kereta Api masa Hindia Belanda). Setelah kemerdekaan (1954-1964) digunakan sebagai Dinas Perumahan, kemudian sekretariat DPRGR dan MPR (1964-1970) dan Kantor Urusan Agama (KUA) yang sekaligus berfungsi sebagai masjid hingga saat ini.

    Kawasan Menteng yang sampai tahun 1970-an dibanggakan sebagai tempat tinggal para diplomat, menteri dan presiden, sekarang sudah tidak asri dan menyegarkan lagi. Rumah-rumah yang dulu hijau royo-royo kini telah dibongkar, sementara lalu lintas dari pagi hingga malam macet.

    Kini Menteng sudah tidak lagi jadi impian ketika pertama kali dibangun sebagai kota taman pertama di Batavia. Bangunannya pun sudah campur aduk berbeda ketika masih tertata baik dan diisi dengan bangunan bergaya selaras satu sama lain.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 11:06 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  5. #5
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Ellya Khadam

    Maret 11, 2008 oleh alwishahab

    Situasi politik Jakarta sejak akhir 1950-an sampai awal 1960-an dalam keadaan bergolak. Bung Karno, yang baru saja mengeluarkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 setelah mendepak demokrasi liberal, mengajak rakyat menjadi kekuatan progresif revolusioner.

    Bung Karno juga mengutuk keras kebudayaan asing, seperti dansa-dansi, musik twist, dan lagu-lagu The Beatles, sampai memenjarakan kelompok musik Koes Plus. Bahkan, dalam berpakaian pun tidak dibenarkan wanita mengenakan busana you can see dan rambut sasak. Celana panjang blue jeans dan celana ketat juga diharamkan. Termasuk, rambut gondrong yang menjadi incaran aparat untuk memangkasnya secara paksa.

    Dalam situasi demikian, Orkes Melayu (OM) saat itu dangdut belum muncul menjadi tontonan yang paling digemari masyarakat. OM main di berbagai pesta hajatan, seperti resepsi perkawinan dan khitanan. Pada pertengahan 1950-an muncul penyanyi Melayu, Ellya Agus, yang kemudian setelah menikah dengan seorang keturunan India berganti nama menjadi Ellya Khadam.

    Anak Kampung Kawi, Pedurenan, Jakarta Selatan, itu memulai karir menyanyi dari balik jendela. Itu terjadi di Kwitang, Jakarta Pusat, di kediaman seorang keturunan Arab. Ia menyanyi bukan di depan panggung, tapi mikrofon diantarkan kepadanya yang tengah duduk di balik jendela. Pendek kata, dalam waktu dekat, nama putri Betawi kelahiran 23 Oktober 1938 ini meroket. Dia mengalahkan penyanyi utama Melayu saat itu, Johana Satar dan Hasnah Tahar.

    Ellya, yang sangat menggemari lagu-lagu India, rupanya belajar bahasa dari Negeri Gangga itu. Apalagi kala itu, suaminya, Khadam, keturunan India. Ellya sejak 1955 sampai masa kejayaannya dalam tahun 1980-an telah merekam tidak kurang dari 400 lagu. Kecintaannya terhadap lagu-lagu berirama India terlihat dari lagu yang diciptakannya. Ia banyak meniru lagu dari film-film India yang kala itu banyak penggemarnya.

    Bahkan, dia mendapat kehormatan untuk menyambut kedatangan aktor dan sutradara India terkenal, Raj Kapoor, di Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat. Lagunya, Boneka dari India, yang sampai kini tetap digemari orang, yang diciptakannya sendiri, menjadi fenomena menarik dalam sejarah musik di Indonesia. Ketika lagu ini diciptakan, orkes Melayu telah berubah menjadi dangdut.

    Setelah lagu tersebut meledak, Ellya kemudian menciptakan lagu Kau Pergi Tanpa Pesan konon sebagai ungkapan rasa rindu terhadap kekasihnya, seorang keturunan Arab, yang pergi meninggalkannya. Ellya semakin dikenal ketika bersama Orkes Malayu Chandraleka pimpinan Husein Bawafie turut mendampingi penyanyi M Mashabi dan Munif Bahaswan. Banyak lagu-lagu mereka yang masuk rekaman. Ellya juga ikut bermain di sejumlah film.
    Pada 1960-an, orkes bermain hingga jauh malam, didukung situasi keamanan yang tidak separah sekarang ini. Kala itu, peristiwa kriminil yang paling menggemparkan adalah ketika terjadi perampokan tempat pameran emas di Museum Nasional.

    Oleh masyarakat Jakarta museum itu disebut Gedung Jodoh. Tiap Ahad pagi sampai sore di sana digelar kesenian Sunda dengan penyanyi Upit Sarimanah. Musium Nasional kala itu merupakan salah satu tempat hiburan yang paling banyak dikunjungi orang. Perampokan itu dipimpin oleh Kusni Kasdut, bersama empat orang kawannya. Mereka menyatroni museum dengan menggunakan pakaian polisi dan menaiki mobil jeep.

    Di antara tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil — sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan. Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir.

    Seperti dituturkan oleh H Irwan Syafi’ie, sekalipun Bir Ali telah dipenjara tapi setiap malam dia bisa keluar dan tidur di Pedurenan, di rumah salah seorang artis penyanyi dangdut yang kesohor kala itu. Tentu saja yang dimaksud adalah kediaman Ellya Khadam.

    Suatu ketika, pihak kepolisian Seksi III Pasar Baru mendapat info bahwa seorang bernama G yang dicari-dicari aparat keamanan tengah menginap di rumah seorang artis dangdut yang menjadi kawan dekatnya. Ketika seorang polisi, pada dini hari, menggerebek rumah si penyanyi, yang tidur di lantai bawah adalah Bir Ali. Sedangkan G, yang diincar polisi, menginap di lantai dua.

    Begitu polisi mengetok pintu lantai pertama, Bir Ali langsung menembak polisi tersebut. Tapi, aparat keamanan, sambil terjatuh, juga masih keburu menembak Bir Ali. Tertembak lehernya, Bir Ali masih bisa melarikan diri sekitar 100 meter untuk kemudian jatuh dan menghembuskan napas terakhirnya.
    Sang polisi mengalami nasib yang sama. Sementara, G yang menjadi sasaran penangkapan berhasil melarikan diri. Tentu saja sang artis dangdut menangis histeris menyaksikan dua mayat tergeletak di kediamannya. Peristiwa ini kala itu benar-benar menggemparkan kota Jakarta.

    Peristiwa kejahatan lain yang menghebohkan pada tahun 1960-an, menurut H Irwan Syafi’ie, adalah ketika iring-iringan mobil pick-up yang membawa rokok Escort keluaran British American Tobacco (BAT) dirampok di Gang Thomas (kini Jl Tanah Abang V), Jakarta Pusat. Tapi, para pelakunya berhasil digulung pihak kepolisian.

    Saat ini Ellya Khadam, dalam usianya yang mendekati kepala tujuh, masih bersemangat kalau diajak berbincang soal musik dangdut. Bahkan, dia kini berencana untuk memproduksi sendiri albumnya, yang selama belasan tahun pernah menjadi hit di tanah air. ”Termasuk mempersiapkan lagu baru,” tutur nenek 14 cucu itu.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 11:11 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  6. #6
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Pembantaian Glodok

    Maret 6, 2008 oleh alwishahab



    Etnis Cina di Indonesia — terbesar di Asia Tenggara — baru saja merayakan Imlek, dan disusul perayaan Capgomeh pada malam ke-15 Imlek. Masih banyak lagi hari raya dan pesta rakyat, yang pada tempo doeloe dirayakan bukan hanya oleh etnis Cina, tapi juga masyarakat Betawi. Seperti, Peh Cun (hari ke-100 Imlek), dan pesta Ceng Beng yang jatuh pada tanggal 5 April 2008.


    Pesta Peh Cun juga dikenal dengan pesta perahu naga. Dulu — ketika sungai-sungai di Jakarta masih lebar dan dalam — pesta Peh Cun berlangsung sangat meriah di Kali Besar, Kali Pasir/Kwitang, Pasar Ikan, Kali Angke, dan di Sungai Cisadane Tangerang (Benteng).
    Masyarakat Cina di Indonesia tidak hanya mengalami saat-saat menyenangkan. Seperti, pada tahun 1740 yang menurut para sejarawan merupakan noda paling hitam di Jakarta. Data kontemporer menyebutkan tidak kurang 10 ribu orang Cina — pria, wanita, lansia sampai bayi yang baru lahir — telah dibantai oleh VOC secara kejam.


    Kasus pembantaian terhadap etnis Cina itu ratusan kali lebih dahsyat dari kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo. Nama Kali Angke (dalam Mandarin berarti Kali Merah) menjadi kenangan bahwa kali yang berdekatan dengan Glodok ini saat itu telah menjadi merah karena darah.
    Peristiwa kekejaman itu dimulai ketika orang-orang Cina yang mencari peruntungan di Batavia jumlahnya mencapai 80 ribu orang. Banyak di antara mereka yang bekerja di pabrik-pabrik gula yang masa itu merupakan penghasilan bidang perkebunan terbesar di Jakarta.


    Sayangnya, tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membludaknya gula Malabar (India). Pabrik-pabrik gula di Batavia pada bangkrut, sehingga banyak warga Cina yang menjadi penganggur dan gelandangan. Dampaknya, kriminalitas di Batavia meningkat tajam.
    Kemudian, VOC buat peraturan untuk membatasi kedatangan warga Cina. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha atau berdagang. Tapi, bagi para pejabat VOC hal ini dijadikan kesempatan untuk melakukan pungli.


    Belum puas dengan peraturan itu, VOC mengeluarkan peraturan lebih berat. Warga Cina, baik yang sudah memiliki surat izin tinggal maupun belum, tapi tak memiliki pekerjaan, harus ditangkap. Warga Cina terguncang, mereka terpaksa tinggal di rumah-rumah dan menutup toko-toko.
    Ratusan warga yang kena razia diberangkatkan paksa ke Sri Langka yang kala itu merupakan jajahan Belanda. Tapi, kemudian tersiar isu, di tengah perjalanan mereka dilemparkan ke tengah laut. Maka gegerlah warga Cina di Batavia dan sekitarnya.


    Mereka lantas membentuk kelompok-kelompok terdiri dari 50 sampai 100 orang dan mempersenjati diri untuk melawan Belanda. Kemudian pasukan VOC yang tengah menuju Benteng (Tangerang) diserang orang-orang Cina. Pada 8 Oktober 1740 orang-orang Cina yang berada di luar kota Batavia mulai menyerang kota.
    Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai-pegawai VOC untuk melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap etnis Cina. Jam malam pun diberlakukan di Batavia. Pada tanggal 10 Oktober 1740, gubernur jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Cina.


    Suasana kota sangat kalut. Para prajurit VOC, bahkan kelasi-kelasi yang kapalnya bersandar di Bandar Sunda Kalapa, diminta untuk melakukan pembantaian. Mereka merampok, membakar dan menjarah toko-toko, serta tanpa mengenal malu memperkosa wanita-wanita Cina.
    Begitu biadabnya pembantaian itu, hingga para pasien termasuk bayi-bayi yang berada di RS Cina (kira-kira di depan Stasion KA Beos), juga dibunuh. Orang-orang Cina di penjara bawah tanah di Balaikota (stadhuis) yang berjumlah 500 orang, semuanya juga dibunuh.
    Untuk menggambarkan dasyatnya peristiwa tersebut, Willard A Hanna dalam buku Hikayat Jakarta menulis, ”Tiba-tiba secara tidak terduga, seketika itu juga terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh kota, dan terjadilah pemandangan yang paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota.”
    Menurut laporan kontemporer, 10 ribu orang Cina dibunuh, 500 orang luka parah, 700 rumah dirusak dan barang-barang mereka habis dirampok. ”Pendeknya, semua orang Cina, baik bersalah atau tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut,” tulis Hanna.


    Ketika peristiwa menakutkan ini terjadi, perkampungan Tionghoa berada kira-kira di sebelah utara Glodok, di Kalibesar. Kemudian VOC membangun perkampungan baru untuk mereka sedikit di luar tembok kota, yang kini dikenal dengan nama Glodok.
    Kala itu, yang menjadi kapiten Cina adalah Nie Hoe Kong. Dia dituduh menjadi aktor intelektual dan dianggap bertanggung jawab dalam peristiwa menyedihkan itu. Dia dijebloskan ke penjara pada 18 Oktober 1740 oleh gubernur jenderal Adrian Valckenier (1737-1741).
    Setelah melalui persidangan yang melelahkan, bertele-tele dan dipolitisir, Nie Hoen Kong divonis 25 tahun penjara dan diasingkan ke Srilangka. Setelah mengajukan keberatan, kapiten Cina ini akhirnya dibuang ke Maluku. Rumahnya, di sekitar Kalibesar, ditembaki dengan meriam, dan ia pun dipenjara selama 5 tahun di benteng Robijn.


    Pada 12 Pebruari 1745 dia diangkut sebagai tawanan ke Maluku disertai beberapa orang keluarganya dengan kapal De Palas. Setelah beberapa lama ditahan di tempat pembuangan, dari hari ke hari kesehatannya makin menurun. Dia meninggal pada 25 Desember 1746 dalam usia muda: 36 tahun.
    Setelah peristiwa pembantaian warga Cina, gubernur jenderal Valckenier digantikan oleh mantan panglimanya, Baron van Imhoff. Kediamannya itu kini dikenal sebagai toko merah. Memang diperkirakan di sekitar tempat itulah terjadi pembantaian di luar perikemanusiaan.
    Kalau bagi masyarakat Cina warna merah berarti kagoembiraan, tapi kali itu merupakan duka nestapa. Karena, mengalirnya ribuan darah korban pembantaian.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  7. #7
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 12:00 PM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  8. #8
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Kraton Jayakarta di Kota Intan

    Februari 25, 2008 oleh alwishahab

    Inilah kawasan Kali Besar yang dibelah oleh Sungai Ciliwung. Sebelah kiri tempat Hotel Omni Batavia berada Jalan Kali Besar Barat dan sebelah timur Kali Besar Timur. Di tengah-tengah muara sungai terletak Jembatan Gantung Kota Intan yang telah berusia ratusan tahun. Jembatan ini merupakan jembatan tarik/jungkat terakhir di Jakarta yang sebelumnya banyak terdapat pada masa VOC. Jembatan ini bisa diangkat saat kapal-kapal hendak memasuki Kali Besar yang pada masa jayanya menjadi pusat perdagangan rempah-rempah.



    Di muara Ciliwung yang merupakan bandar Sunda Kalapa inilah pada 22 Juni 1572, Panglima Balatentara Muslim Falatehan dari Demak mengusir Portugis yang secara sepihak mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Hindu Pajajaran yang berpusat di Batutulis, Bogor.


    Di kedua sisi jembatan Kota Intan kini berdiri terminal bus Jakarta Kota. Di sekitar tempat yang tampak dalam foto inilah Falatehan mendirikan Kraton Jayakarta. Kota Jayakarta terbentang dari utara ke selatan di mana terdapat kedua anak sungai Ciliwung.

    Di tempat yang banyak terdapat pohon kelapa inilah kira-kira berdiri kraton (dalem). Di sebelah selatan terdapat alun-alun dan di sebelah barat alun-alun terdapat sebuah masjid dan selatan alun-alun terdapat pasar. Tata kota dengan penempatan bangunan-bangunan seperti kota Jayakarta pada dasarnya tak berbeda dengan tata kota lainnya di pesisir utara Jawa pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam seperti Banten, Cirebon dan Demak. Bangunan-bangunan kraton, masjid, pasar,dan alun-alun mencerminkan pusat kekuasaan politik antara masyarakat dengan raja dan birokrat. Ketika itu Kraton Jayakarta –juga terdapat perumahan para abdi dalem — dikelilingi oleh pagar kota dari bambu yang kemudian menjadi pagar tembok.

    Dari berita Belanda, penduduk kota utama Jayakarta sekitar tiga ribu kepala keluarga atau sekitar 15 ribu jiwa. Pada 30 Mei 1619 Belanda tanpa mengenal ampun telah menghancurkan dan membumihanguskan Kraton Jayakarta. Termasuk masjid tempat ibadah yang seharusnya dihormati.

    Pihak penjajah bukan hanya menghancurkan Jayakarta tapi mengusir seluruh penduduk. Kita dapat membayangkan bagaimana 15 ribu jiwa termasuk anak-anak kecil harus menyingkir ke Jatinegara Kaum yang jaraknya sekitar 20 km dari Kota Intan.

    Kala itu mereka harus melewati hutan belukar. Di Jatinegara Kaum mereka mendirikan Masjid Asy-Salafiah yang hingga kini masih berdiri tegak. Pangeran Jayakarta dan anak buahnya melalui masjid menggerakkan pasukan bergerilya melawan Belanda.
    Terakhir diubah oleh Butogamo; 04-06-09 pukul 11:16 AM.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  9. #9
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Kampung Melayu-Priok

    Februari 25, 2008 oleh alwishahab



    Menaiki mikrolet dari terminal Kampung Melayu menuju stasiun kereta api Tanjung Priok kita harus beberapa kali berganti kendaraan. Seorang sopir mikrolet yang dulu disebut Ostin — berasal dari nama kendaraan Austin buatan Eropa — mengeluh berkurangnya penumpang sejak beroperasinya busway.


    Kampung Melayu, yang telah dikenal sejak abad ke-17,dijadikan tempat pemukiman orang-orang Melayu yang berasal dari Malaka di bawah pimpinan Kapten Wan Abdul Bagus. Dia digambarkan sebagai orang yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan
    tugas, baik tugas administrasi maupun di lapangan sebagai perwira.



    Tapi, sayangnya Kapten Wan Abdul Bagus sangat mengabdi kepada Kompeni, dimulai sebagai juru tulis, juru bahasa, sampai ditunjuk sebagai utusan ketika kompeni menghadapi masalah di Sumatra Barat. Kapten Melayu yang pernah ikut kompeni dalam menumpas pemberontakan Mataram, Banten dan Pangeran Trunojoyo, itu meninggal pada tahun 1716 dalam usia 90 tahun.


    Setelah meninggal, Wan Abdul Bagus digantikan oleh putranya,Wan Muhamad, yang kawin dengan Syarifah Mariam yang pernah membuat geger Kesultanan Banten karena berpihak pada Sultan Haji ketika ingin mengambil kekuasaan Banten dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan sekaligus bersekongkol dengan Gubernur Jenderal Van Imhoff.


    Oleh gubernur jenderal berikutmya Syarifah diasingkan ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu hingga meninggal. Makamnya masih sering diziarahi untuk meminta nomor buntut, terutama saat Hwa-Hwe.


    Mikrolet kemudian berhenti di Bukit Duri. Dulu di sini terdapat penjara wanita yang kemudian dibangun Kompleks Pertokoan dan Perumahan Bukit Duri Permai. Bukit Duri, yang masuk wilayah Meester Cornelis, dulu merupakan bagian terpisah dari Batavia dan pada 1924 dijadikan nama Kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Batavia.


    Baru pada 1 Januari 1936, setelah berbentuk gemeente, Bukit Duri disatukan dengan gemeente Batavia. Perubahan nama Meester Cornelis menjadi Jatinegara dilakukan pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945).


    Kemudian, mikrolet meluncur ke Matraman. Kini Pemda DKI Jakarta dibuat pusing oleh perkelahian yang entah sudah berapa kali antara warga Berland dan Pal Meriam. Padahal, antara kedua kelurahan yang saling berseberangan itu sudah dibangun pagar pemisah yang cukup tinggi dari besi.


    Matraman pernah dijadikan basis oleh pasukan Sultan Agung ketika menyerang Batavia (1628-1629). Entah bagaimana kata Mataram itu oleh lidah Jakarta menjadi Matraman. Sekalipun dua kali penyerangan itu gagal karena tidak didukung logistik, para bangsawan Mataram yang kemudian tinggal di Jakarta cukup andal dalam penyiaran agama. Terbukti, banyak masjid yang mereka bangun dan hingga kini masih berdiri.


    --------


    Melewati Pasar Senen, kita harus pindah ke mikrolet Senen-Kota. Di Jl Senen Raya ini dulu Gubernur Jenderal Van den Parra membangun istana sekaligus tempat peristirahatan yang megah. Kini menjadi Rumah Sakit Pusat AD Gatot Subroto.


    Jalur mikrolet Senen-Kota melewati Pasar Baru — pasar yang ada belakangan setelah lingkungan sekitar lapangan Gambir dibuka oleh gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Daerah yang menjadi pusat pemerintahan VOC itu oleh Daendels dinamai Weltevreden (tempat yang menyenangkan).


    Dari Pasar Baru, mikrolet menuju Jl Pintu Besi (kini Jl Samanhudi).Di sini terdapat pusat penjualan suku cadang terbesar di Jakarta. Namanya Musatek dan sebelumnya Percetakan Siliwangi. Gedung yang luas itu dulu milik pahlawanan nasional M Husni Thamrin. Di sinilah dia wafat pada tahun 1941. Waktu dimakamkan di TPU Tanah Abang, jumlah pelayatnya ditaksir mencapai ratusan ribu orang, padahal penduduk Jakarta kala itu baru setengah juta jiwa.
    .. .. ..
    Setelah berganti mikrolet di stasiun kereta api Bios, kita mendapati puluhan mikrolet yang sedang menunggu penumpang ke Priok. Stasion KA Tanjung Priok sudah belasan tahun ini tidak terurus lagi. Yang menyedihkan, banyak tuna susila tinggal dan memasak sampai ke dalam stasion.

    Stasiun Tanjung Priok dibangun setelah pelabuhan Tanjung Priok dibuka untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kalapa yang sejak dibukanya Terusan Suez (1868) tidak lagi dapat menampung armada kapal-kapal uap yang menggantikan kapal layar.


    Sejak Terusan Suez dibuka, jumlah warga Barat di Nusantara terus meningkat pesat. Pada 1860-1870 meningkat dari 5.000 menjadi 40.000 jiwa, atau meningkat delapan kali lipat.
    Sepuluh tahun kemudian menjadi 60 ribu dan 20 tahun kemudian jumlah orang Eropa di Nusantara mencapai 91.142 jiwa. Tanjung Priok berperan sebagai tempat transit warga Barat yang datang ke Batavia dan sekitarnya. Mereka naik kereta api dari stasiun KA Tanjung Priok. Di salah satu bagian dari stasion KA itu dulu terdapat sebuah hotel yang cukup baik bagi mereka yang tiba kemalaman. Stasiun ini bukan hanya mengangkut penumpang untuk kota Jakarta dan sekitarnya, tapi juga untuk jarak jauh seperti Semarang dan Surabaya.


    Dulu stasion Tanjung Priok punya jaringan hingga ke dermaga pelabuhan (1885), kemudian disempurnakan dengan membangun stasiun baru pada 1886. Pada kesempatan itu juga digunakan kereta api listrik pertama di Hindia Belanda dari Meester Cornelis ke Tanjung Priok.
    Stasion ini merupakan stasiun monumental dengan delapan jalur. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang yang memiliki atap penutup dari beton. Ketika stasion KA ini dibuka, seperti juga stasiun dan bangunan-bangunan besar lainnya, dilakukan selamatan untuk seluruh karyawan dengan menanam dua kepala kerbau di sisi stasiun.


    Kabarnya, pihak PT KAI dalam waktu dekat akan mengoperasikan kembali stasiun KA Tanjung Priok yang telah bertahun-tahun tidak berfungsi.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  10. #10
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Pesta Capgomeh

    Februari 19, 2008 oleh alwishahab



    Tahun baru Imlek telah berlangsung meriah di berbagai tempat di Indonesia. China Town — Glodok dan Pancoran — didominasi warna merah. Sejak angpau, parsel, kartu ucapan selamat, hiasan dinding, sampai makanan untuk keperluan liangsium (sembahyang), semua dikemas dalam warna merah yang bagi masyarakat Cina adalah lambang keberuntungan.


    Keramaian semacam itu telah berlangsung sejak ratusan tahun di Indonesia — kecuali selama 32 tahun masa Orba. Setelah Imlek disusul dengan Capgomeh atau malam ke-15 setelah tahun baru Cina. Ramainya tidak kalah dengan karnaval yang digelar di jalan-jalan di Amerika Latin.
    Jumlah masyarakat keturunan Cina di Indonesia paling besar di Asia Tenggara. Lebih besar dari keturunan Cina di Malaysia yang merupakan sepertiga penduduk negeri jiran, yang berjumlah sekitar 20 juta jiwa, itu. Di luar daratan Cina, dewasa ini jumlah orang Cina di Asia mencapai 40 juta jiwa. Di Asia Tenggara, jumlah keturunan Cina terbesar ada di Indonesia.


    Menurut pengamat Cina, Prof Dr James Danandjaya, para hoakiau (Cina perantau) di Asia memproduksi 600 miliar dolar AS dalam bentuk barang dan jasa di negara asal mereka. Termasuk pengusaha keturunan yang mengadakan investasi di daratan Cina. Sementara, orang Tionghoa perantau yang hidup di AS dan Kanada menyumbang 80 prosen dari penanaman modal di RR Cina. Mereka mendanai sampai terjadinya ledakan ekonomi (economic boom) yang membuat Cina menjadi pasar ketiga terbesar di dunia, setelah AS dan Jepang.


    Begitu berpengaruhnya budaya Cina. Istilah kawin perak untuk perkawinan suami istri mencapai 25 tahun dan kawin emas untuk 50 tahun serta kawin berlian untuk usia perkawinan 60 tahun, pun berasal dari Cina. Memang tak selalu ada acara khusus dalam pesta perkawinan tersebut. Biasanya hanya ada jamuan makan siang atau malam, dengan bersulang anggur bersama keluarga dan para tamu.


    Dalam tradisi Cina di Indonesia, terutama tempo doeloe, ada banyak sekali hari raya dan pesta rakyat. Termasuk Capgomeh pada malam ke-15 Imlek. Banyak orang dari luar kota Betawi yang sengaja datang untuk turut merayakan Capgomeh. Pada malam itu ada kebiasaan, terutama di kalangan kaum perempuan Betawi keturunan Cina, untuk begadang sambil memasang kuping untuk menangkap semua kata yang diucapkan oleh orang-orang yang sedang lalu lalang di depan rumah mereka pada waktu keadaan sudah sepi.


    Menurut keyakinan mereka, kata-kata yang diucapkan orang yang sedang lewat itu adalah ramalan nasib bagi yang mendengarnya. Misalnya, jika seorang perempuan mendengar orang lewat mengatakan, ”Biar dia begitu, ia itu adalah tauke.”
    Menurut keyakinan, dalam waktu singkat di kemudian hari, suaminya akan menjadi pengusaha besar, walaupun pada waktu itu hanya seorang kuli toko di Pintu Kecil. Demikian tulis James Danandjaja dalam Folklor Tionghoa.


    Pesta Capgomeh meriah banget dan berlangsung semalam suntuk. Tak heran kalau keesokan harinya orang malas bekerja dan memilih tidur. Bagi orang yang gemar pesta sampai kini belum ada yang mengalahkan kemeriahan malam Capgomeh, karena berlangsung selama beberapa hari dan diadakan di berbagai tempat.


    Setelah Capgomeh, acara dilanjutkan dengan pesta rakyat yang disebut Caplakme (malam ke-16 Imlek). Di Jakarta berlangsung di daerah-daerah Tanah Abang, Pal Merah, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Meskipun, tidak seramai pesta Capgomeh di kawasan Glodok dan Pancoran.


    Dalam Capgomeh ada keramaian yang disebut ciakko (rebutan bendera), upacara untuk menyembayangi orang-orang yang tidak disembayangi oleh keluarganya karena terlalu miskin. Masyarakat Cina memberikan sumbangan uang dan barang serta bahan makanan. Kemudian barang-barang itu ditempatkan dalam bakul-bakul, lalu ditancapi bendera segi tiga aneka warna.
    Capgomeh dimulai dari tempat beradanya topekong yang kemudian dikeluarkan dari wihara dan digotong ramai-ramai menyusuri jalan-jalan raya, diiringi orkes tanjidor yang berasal dari Portugis.


    Rupanya, waktu itu, pacaran berbeda dengan sekarang. Kalau kini muda-mudi cukup saling menyapa atau kedip-kedipan, tidak demikian pada zaman baheula. Proses pacaran dimulai dengan saling melempar hwaatkweee alias kue apem dan kue tiongcuphia yang bentuknya seperti bola kecil. Kedua kue itu berisi kacang hijau yang telah dihaluskan. Menurut keyakinan orang Cina ketika itu, kedua kue tersebut menjadi simbol pengharapan. Artinya, yang mulanya kecil lama-lama menjadi besar.


    Kalau dalam lempar melempar kue baik di hari Capgomeh maupun Pehcun (hari ke-100 setelah Imlek) ada kecocokan, dan muda-mudi saling naksir, proses selanjutnya bisa merembet ke perjodohan. Meskipun si gadis sudah jatuh cinta kepada si pemuda, tapi masih ada persyaratan yang harus dilalui. Si pemuda harus berkunjung kerumah calon mertoku.


    Saat kunjungan pertama itu si pemuda harus membawa sepasang ikan bandeng. Lebih-lebih pada hari Capgomeh. Menurut orang Cina, cialat atau celaka dua belas bagi calon mantu yang datang (sowan) tanpa membawa sepasang ikan bandeng. Calon mantu yang begini akan dianggap tidak punya liangsim atau rasa malu. Pergi sowan ke rumah gadis pilihan tanpa membawa sepasang bandeng dianggap membuat malu calon mertua di depan tetangga
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


Thread Yang Serupa

  1. Foto2 Jakarta Tempo Doeloe ...
    By intermilan_men in forum DKI Jakarta
    Jawab: 51
    Postingan Terakhir: 23-01-11, 03:35 PM
  2. Sejarah Pasar Baru - Jakarta
    By yosuke_sagara in forum Warung Kopi
    Jawab: 20
    Postingan Terakhir: 29-06-10, 08:35 PM
  3. Kondom Tempo Doeloe
    By thikus in forum Warung Kopi
    Jawab: 1
    Postingan Terakhir: 06-11-09, 05:55 PM
  4. blog khusus sejarah jakarta
    By savikovic in forum DKI Jakarta
    Jawab: 0
    Postingan Terakhir: 21-09-08, 05:29 AM
  5. PICS : Djakarta dan Djogja tempo Doeloe..
    By monkey_funkey in forum Diskusi Bebas
    Jawab: 19
    Postingan Terakhir: 10-08-05, 07:44 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • Kamu tidak diijinkan edit postinganmu