Hai.. hai...
Apabila kamu melihat tulisan ini berarti kamu belum terdaftar sebagai warga KL. Ayo gabung dengan Daftar terlebih dahulu, tentunya kamu akan menemukan banyak teman untuk saling berbagi informasi ataupun solusi di forum ini.
sejarah seputar tentang Padi - Halaman 5

+ Reply to Thread
Hal. 5 dari 15 PertamaPertama ... 3 4 5 6 7 ... TerakhirTerakhir
Menampilkan 41 s/d 50 dari 144
  1. #41
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default

    lanjutan Unsur Agama Kultur Dalam Upacara Pernikahan..................


    Selain kedua ajaran di atas, ajaran agama mana lagi yang memiliki upacara pernikahan?

    Di dalam ajaran ummat Yahudi juga ada upacara pernikahan. Mereka punya upacar-upacara tertentu. Di dalam Kitab Yehezkil disebutkan "Maka adalah keadaan pengantin laki-laki itu ia berpakaian serba indah, bercelak matanya dan berharuman dengan minyak narwastu lalu diarak oranglah untuk mendapatkan pengantin perempuannya itu. Maka akan hal pengantin perempuan itu sesuai berlaku adat padanya, ia berpakaian serba indah, berkalung permata dan bergelang tangan dan kakinya. Maka pengantin perempuan itu duduk dipelaminan dan wajahnya pun bercadarlah kerudung sehingga tertutuplah ia. Hatta manakala pengantin laki-laki hendak mendapatkan ia maka berlakulah adat bertanya jawab lalu iapun masuk dan ia pun menyingkapkan kerudung penutup wajah dan kepalanya itu, seraya ia berbaca: "Dengan nama Tuhanmu Hua, Elohim yang amat pengasih dan amat penyayang." Maka serta dijawab pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki, katanya: "Semoga Elohim, Hua Tuhanmu memberkatimu." Maka keadaan pengantin perempuan itu terlalu amat malu tampaknya, dalam ketika ia menyampaikan jawabannya itu. Maka kedua pengantin itupun bersandinglah dan kepala keduanya pun berkerudung dengan selembar kain, yakni pengantin laki-laki menundukkannya pada pengantin perempuannya itu, demikianlah adat pengantin menurut tatacara Israel itu. Dan bersetuju dengan firman Hua: :Aku pun mengembangkan sayapku atasmu dan menudungilah ketelanjanganmu dan akupun bersumpah setia kepadamu dan aku pun masuk janjilah dengan dikau, demikianlah firman Hua maka demikianlah engkau telah menjadi aku punya." (Yehezkil 16:8). "Maka demikianlah berlaku adat pula jika ia mau memadu kawin kepada seorang perempuan sahaya yang ia beli, karena sesungguhnya seorang laki-laki itu bolehlah ia bersitri lebih daripada seorang dan tiada sedikitpun ia tercela, sepanjang tiada larangannya akan wasiat Imam dan ini pun telah berlaku bagi Raja Daud dan Raja Sulaiman dan raja-raja kemudian daripada ia." (Wasiat Imam 46:16-18)

    Di dalam ajaran Islam ada istilah hitbah sedangkan di luar Islam ada upacara "tukar cincin". Nah, sebetulnya upacara "tukar cincin" itu dari ajaran mana? Ritus Tukar Cincin itu

    sebenarnya dari agama Yunani dan Romawi Kuno. Dalam pandangan mereka cincin kawin itu dikeramatkan dan dianggap sebagai pengganti alat pengikat dari Cupido. Jika cincin itu jatuh, dianggap berbahaya pada jenjang perkawinan, maka dibuatlah penangkal-penangkal. Bila hujan selalu turun dan mengganggu upacara, diletakannya cincin itu di halaman dan disajikannya sajian pada Cupido dan Dewa Penurun Hujan. Di dalam Islam tidak ada tukar cincin. Semua itu tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Ritualnya begini, calon pengantin diikat dan dibawa dalam sebuah kereta. Lalu Cupido memberi jalan pengganti dengan ikatan cincin. Cincin laki-laki diberikan pada perempuan dan cincin perempuan diberkan pada laki-laki. Cincin itu dikenakan pada jari manis. Tukar cincin merupakan pengikat cinta dan Amor pun turun melepaskan anak panah pada hati keduanya. Ada tukar cincin yang langsung diikuti perkawinan dan ada yang ditangguhkan.

    Lalu, dalam ajaran agama Yunani dan Romawi sendiri bagaimana upacara perkawinannya?

    Ritus Perkawinannya begini, pengantin duduk berkerudung kuning lalu diperciki air oleh pendeta. Hadirin menyanyikan pujaan untuk Dewa Hymen, lalu dinyalakannya pelita dua buah atau lilin dua batang. Upacara perkawinan dilakukan di kuil atau di rumah keluarga perempuan. Disajikannya makanan dan minuman "prodeo" di antaranya untuk Amor. Roti pengantin dipotong dan dibagikan pada bujang dan dara, agar lekas mendapat kawan hidup. Pada awal perkawinan seorang Ksatria terdapat pula sayembara, lalu jika lepas upacara peresmian di kuil, kedua pasangan itu melalui lorong manusia di bahwah silang pedang.

    Katanya dalam ajaran mereka juga ada istilah "kawin emas" dan "kawin perak"?

    Memang betul. Itu istilahnya Pesta pembaharuan kawin. Jika usia perkawinan mereka sudah menginjak enam seperempat tahun diadakan kawin perunggu. Jika sudah duabelas setengah tahun, diadakan upacara kawin tembaga. Jika duapuluh lima tahun disebut kawin perak. Jika limapuluh tahun kawin emas dan jika lebih dari tujuthpuyluh lima tahun diadakan kawin berlian. Pada ulangtahun perkawinan itu dinyalakan dua batang lilin besar, lalu diperhatikan mana yang lebih dulu habis, karena dianggap melambangkan siapakah di antara mereka itu yang lebih dulu mati. Upacara tukar cincin, perkawinan dan ulangtahun perkawinan Yunani dan Romawi hampir sama, hanya ada sedikit perbedaan dalam cara berpakaian. Masing-masing memuja Amor dan Venus.




    sumber artikel dari "sini"

  2. #42
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default



    Mupuhun, Tradisi Petani Kuningan yang Nyaris Punah



    BAGI petani di beberapa daerah wilayah Kabupaten Kuningan, memiliki kebiasaan yang jarang dilakukan oleh petani di daerah lain pada saat musim tanam padi. Seperti yang dilakukan petani di Desa Tundagan, Kecamatan Hantara, mereka biasanya melakukan semacam ritual yakni yang disebut mupuhun.

    Suhadi (68), salah seorang petani di Desa Hantara, menyatakan, mupuhun berasal dari kata puhu (awal, ujung paling besar), bila diterjemahkan secara bebas mupuhun bisa diartikan mengawali kegiatan menanam padi (tandu;-Sunda).

    "Kebiasaan seperti ini, sebenaranya merupakan warisan leluhur yang sudah jarang dilakukan oleh umumnya petani di Kabupaten Kuningan," kata Suhadi.

    Suhadi sendiri, masih melaksanakan kebiasaan itu karena merasa terdorong untuk melestarikan tradisi leluhurnya yang dianggap mengandung nilai-nilai filosopi di dalam tradisi mupuhun tersebut. Memang, ada beberapa makna dalam tradisi ini, satu diantaranya mengajarkan petani agar tertib ketika mengawali menanam padi.

    Pada saat melaksanakan tradisi mupuhun, yang petama kali dilakukan oleh petani yakni mengambil segenggam bibit padi dari lokasi persemaian. Selanjutnya bibit padi itu disemprot air melalui mulut petani sebanyak tiga kali. Setelah itu padi dibuat menjadi tiga sampai tujuh bagian.

    "Menanam padi pertama yang dilakukan petani Desa Tundagan tidak sembarangan, tapi terlebih dahulu petani membaca do'a seperti membaca lafadz bismillah, syahadat dan sholawat dengan tujuan agar padi yang ditanam itu hasilnya menggembirakan," jelas Suhadi, petani yang biasa mendapat kepercayaan oleh petani lainnya untuk melaksanakan ritual mupuhun.

    Selain berdo'a, lanjut dia, biasanya petani pun membaca mantra dengan menggunakan bahasa Sunda yang antara lain berbunyi, Seja titip ka nu kagungan bumi, nu kagungan poe tujuh, sim abdi putuna Sang Kuwu Cirebon Girang seja melak Nyi. Pohaci, nyaeta akarna kawat, tangkalna beusi, daunna waja.

    Boh bilih aya nu ngaganggu ti sisi ti gigir, neda pangjagakeun, pangraksakeun, siang sinareng wengina. Margi upami ieu pepelakan aya nu ngagunasika, tangtos Susuhunan Pangeran Cirebon bendu.

    Usai membaca do'a dan mantra, bibit padi yang sudah dibagi tiga sampai tujuh bagian itu mulai di tanam di sawah. Setelah mupuhun selesai, baru bibit padi secara keseluruhan di tanam di sawah sesuai luasnya lahan tersebut.

    "Kebiasaan petani di Desa Tundagan, sebenarnya tidak saja sebatas mupuhun, tapi ada tradisi disebut nyawen, yakni melaksanakan ritual saat padi tumbuh besar. Begitu pula tradisi saat panen atau mengangkut padi dari sawah. Tapi sekarang hanya mupuhun yang masih bertahan," paparnya. (BC-99)



    sumber artikel dari "sini"


  3. #43
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default


    Pertanian Suku Baduy: Wujud Kecintaan pada Alam


    BILA berkaca pada maraknya penebangan hutan tanpa penanaman kembali, atau taman kota yang kehilangan fungsi sebagai daerah serapan, mungkin kita harus belajar dari suku Baduy bagaimana alam ini dilestarikan. Berladang adalah pekerjaan utama suku yang menempati 53 kampung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa ini terletak sekitar 120 kilometer arah barat daya Jakarta.

    BADUY dibagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Secara garis besar, adat yang dipegang Baduy Dalam dan Baduy Luar sama. Perbedaan terletak pada penerapan sehari-hari. Baduy Dalam mendiami tiga kampung yang membentang dari utara ke selatan, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Jarak kampung Cibeo dan Cikeusik bisa ditempuh selama sekitar empat jam berjalan kaki. Jalan di kampung-kampung Baduy Dalam dan sebagian besar Baduy Luar banyak yang berupa tanjakan dengan kemiringan antara 45 sampai 60 derajat. Baduy Dalam dikelilingi kampung-kampung Baduy Luar.

    Kampung yang berbatasan langsung dengan Baduy adalah Ciboleger. Waktu tempuh Ciboleger ke Kaduketug-kampung Baduy yang berimpit dengan Ciboleger-hanya sekitar lima menit. Udara di kampung Baduy tergolong bersih dan segar. Salah satunya karena suku Baduy pantang menggunakan alat transportasi, karena itu asap dari knalpot pun tidak dijumpai di kampung ini.Perjalanan di dalam kampung hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Adat yang dipegang oleh suku Baduy Dalam melarang sama sekali warganya untuk memakai alat transportasi ke mana pun mereka pergi.Bila ke kota lain, seperti Bogor atau Jakarta, mereka tetap harus berjalan kaki. Sedangkan Baduy Luar boleh memakai jasa transportasi di luar kampung, tetapi tidak boleh memiliki kendaraan pribadi. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang puun (tetua adat). Puun bertanggung jawab menjaga adat Baduy agar tidak berubah.

    KEHIDUPAN suku Baduy memiliki ketergantungan besar terhadap alam. Ketergantungan ini diimbangi dengan menjaga alam dari kerusakan. Tanah di Baduy dibagi menjadi tiga peruntukan, yaitu sebagai lahan perladangan, permukiman, serta hutan lindung. Perladangan yang diterapkan di Baduy berpindah-pindah. Setiap tahun panen padi hanya satu kali saja. Lamanya masa tanam padi lima sampai enam bulan. Tanah yang ditinggal pergi oleh seorang peladang harus didiamkan dulu sebelum dijadikan lahan oleh warga lain agar kesuburannya terjaga. Jeda waktu sebelum tanah bisa ditanam lagi semakin singkat. Sekitar 10 tahun lalu tanah diistirahatkan sekitar 10 tahun, sekarang hanya didiamkan tiga sampai lima tahun. Siklus yang semakin cepat ini dipicu oleh pertambahan jumlah penduduk Baduy. Efeknya tentu tampak pada kualitas dan kuantitas produksi padi. Perpindahan ladang umumnya dilakukan setelah satu sampai dua kali panen, meskipun ada juga warga yang baru pindah ladang setelah empat kali panen. Hasil panen di tanah yang sama akan terus menurun setiap tahun.

    Setiap kali membuka ladang baru, ada tiga pekerjaan yang dilakukan, yaitu memangkas tumbuhan yang ada di situ, membakar tumbuhan, dan membersihkan tanah dari benda-benda yang mengganggu perladangan. Tanah tidak dibajak demi menjaga kekuatan tanah di tanah Baduy.

    Setelah tanah siap, dimulailah tanam padi atau yang dikenal dengan nama ngaseuk. Sebelum mulai menanam padi, suku Baduy mengadakan upacara untuk memuji Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi, agar melindungi tanah mereka. Dalam upacara ini, ada mantra-mantra yang diiringi alunan angklung dan kendang kecil (dog-dog). Pemain angklung bertugas membacakan mantra. Upacara ini wajib diadakan di setiap kampung. Warga yang mampu juga bisa mengadakan upacara ini bagi mereka masing-masing. Upacara yang diadakan setiap keluarga sifatnya tidak wajib sebab untuk upacara ini tuan rumah harus menyediakan makan dan kebutuhan lain.





    bersambung........................................ .....


  4. #44
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default

    lanjutan Pertanian Suku Baduy: Wujud Kecintaan pada Alam.......




    Masa tanam padi di kampung-kampung Baduy Dalam dimulai ketika puun sudah menanam padi. Setelah puun, warga mulai menanam. Beberapa warga memiliki hari baik yang mereka jadikan pegangan untuk mulai menanam padi. "Sejak menikah, saya selalu mulai nanam hari Selasa," ungkap Jakri (29), warga Baduy Dalam, dengan bangga sebab selama ini panennya selalu berhasil.Setelah masa tanam, warga Baduy tidak lagi mengurus huma mereka secara teratur. Mereka hanya membersihkan ladang dari tumbuhan-tumbuhan yang bisa mengurangi produksi padi. Pengairan ladang dilakukan tanpa irigasi dan hanya mengandalkan hujan. Masa tanam padi sengaja dipilih pada awal musim hujan atau sekitar bulan Oktober. Ladang tidak mendapatkan pengairan untuk menjaga kebersihan air.

    Warga Baduy, terlebih Baduy Dalam, tidak menggunakan obat-obatan kimia selama berladang. Adapun Baduy Luar sudah mengenal pestisida. Di Baduy Dalam, pemberantasan hama dilakukan dengan membacakan mantra-mantra. Hama pun jarang menyerang ladang. Alat pertanian yang digunakan di Baduy tergolong sederhana. Koret (arit), kayu untuk membuat lubang tempat benih, serta etem (ani-ani) adalah alat-alat yang digunakan dalam perladangan masyarakat Baduy. Mereka tidak boleh membajak tanah dengan hewan atau traktor dengan alasan akan merusak kesuburan tanah.

    BADUY Dalam dan Baduy Luar memiliki areal tanah garapan masing-masing. Baduy Dalam tidak boleh berladang di Baduy Luar, demikian pula Baduy Luar tidak diperkenankan memiliki ladang di Baduy Dalam. Tanah perladangan di Baduy Luar boleh diperjualbelikan di antara mereka. Untuk tanah yang berkualitas baik, harga jualnya mencapai Rp 10.000 per meter persegi. Tanah ini tidak boleh dijual kepada orang yang bukan berasal dari suku Baduy. Sedangkan, Baduy Luar memiliki tanah di luar tanah Baduy. Berbeda dengan Baduy Luar, Baduy Dalam tidak mengenal perdagangan tanah. Tanah Baduy Dalam tidak diperjualbelikan, tetapi boleh digunakan secara bergantian oleh semua warga Baduy Dalam. Warga Baduy Dalam juga tidak diperkenankan membeli tanah di mana pun. Setiap kampung di Baduy Dalam mempunyai ladangnya masing-masing.Tanah yang dulu dikerjakan oleh seorang warga boleh ditempati orang lain pada musim tanam berikutnya. Hanya saja, tanaman yang telah ditanam oleh penggarap ladang sebelumnya tetap menjadi milik penanam sebelumnya.

    Setiap keluarga di Baduy Dalam menentukan luas ladang yang sanggup dikerjakan keluarga itu. Bila ternyata keluarga itu tidak mampu mengerjakan ladangnya, ia dapat meminta bantuan warga lain. Orang yang diminta membantu mengerjakan ladang bekerja dari pukul 08.00 sampai 12.00. Penyewa tenaga ini harus membayar upah pekerja sebesar Rp
    6.000 per hari. Suku Baduy mempunyai areal yang dijadikan hutan lindung. Hutan lindung berfungsi sebagai areal resapan air. Pepohonan di areal ini tidak boleh
    ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk untuk ladang. "Tidak. Tidak boleh ngapa-ngapain hutan. Ini sudah adat kami," ungkap Jakri. Hutan ini juga membantu menjaga keseimbangan air dan kejernihan air di Baduy, terlebih di Baduy Dalam.

    HASIL panen ladang di Baduy terutama padi. Padi ini disimpan di lumbung-lumbung dan bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun! Setiap keluarga mempunyai lumbung masing-masing. Jumlah lumbung yang dimiliki tiap keluarga tidak sama. Ada yang hanya memiliki satu lumbung, tapi ada juga yang punya 10 lumbung. Padi dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Baduy. Adat juga mengatur bahwa padi yang dihasilkan suku Baduy tidak boleh diperjualbelikan, baik di dalam ataupun di luar Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain membantu mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Berkurangnya produksi padi sejak sekitar empat tahun lalu mendorong warga Baduy untuk membeli beras dari luar Baduy. Pembelian beras ini dilakukan untuk mencegah kekurangan stok beras mereka.

    Selain menanam padi, lahan di ladang juga dimanfaatkan untuk menanam sayur atau buah, seperti kacang, durian, atau aren. Tanaman ini ditanam di antara padi. Lahan untuk menanam tanaman lain selain padi sering disebut kebon. Meskipun secara garis besar suku Baduy tidak mengenal perdagangan, pada kenyataannya jual beli hasil kebon sudah terjadi di Baduy, terutama Baduy Luar. Di Baduy Dalam, adat mereka melarang warganya menjual hasil kebon. Tetapi, bila ada orang yang datang dan tertarik membeli hasil kebon, perdagangan
    boleh dilakukan langsung di tempat.

    UNTUK meneruskan tradisi berladang, setiap anak di Baduy selalu diajak ke ladang dan diperkenalkan cara berladang sejak usia dini. Suku Baduy juga mempunyai kebiasaan, setiap anak yang telah menikah dan membentuk keluarga baru harus mengerjakan ladang sendiri.Sebelum menikah, calon menantu laki-laki harus membantu keluarga perempuan di ladang. Tujuannya agar keluarga perempuan dapat menilai sejauh mana calon suami yang dipilihkan untuk putri mereka mampu menghidupi keluarga barunya kelak dari berladang.

    Suku Baduy mendirikan saung huma (gubuk) di ladang mereka. Saung ini digunakan sebagai tempat istirahat dan makan siang ketika berladang.Di saung huma ini warga Baduy menyimpan perlengkapan memasak dan persediaan beras. Kira-kira pukul 10.00, ibu-ibu atau anak perempuan mulai memasak. Setelah matang, mereka makan bersama di saung.Hampir setiap hari warga Baduy pergi ke ladang. Mereka bekerja di ladang sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 17.00. Saat itulah kampung-kampung di Baduy sepi.

    Tidak setiap hari mereka bekerja di ladang. Di Baduy Dalam, setiap tanggal 15 dan 30 menurut kalender mereka ada larangan bekerja di ladang. Sedangkan warga Baduy Luar mempunyai kebiasaan libur setiap hari Minggu. Bagi beberapa keluarga, hari Jumat juga dijadikan sebagai hari libur.Tak jarang, warga Baduy-terutama laki-laki-meninggalkan ladangnya bila
    pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak.Lewat sistem kepercayaan, adat, serta niat untuk menjaga keseimbangan alam, suku Baduy terbukti mampu menghidupi diri mereka sekaligus melestarikan alam. Semoga saja, adat mereka tidak serta-merta berubah akibat pengaruh dari luar yang menyerbu suku Baduy dari berbagai penjuru. (Y06)



    sumber artikel dari "sini"


  5. #45
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default


    Nenek Moyang Kita Petani Padi


    Ketika petani padi Korea Selatan dan Jepang berunjuk rasa menentang liberalisasi pasar beras, mereka berteriak keras, usaha tani padi harus dilindungi. Mereka menyatakan, perlindungan itu terkait keyakinan dan penghormatan terhadap nenek moyang mereka, yaitu petani padi.

    Mereka menyatakan, meski negara mereka sudah maju, mereka tetap menghormati nenek moyang mereka. "Nenek moyang kami adalah petani padi," kata mereka di majalah Time beberapa waktu lalu.

    Apakah nenek moyang bangsa Indonesia juga petani padi?

    Penelitian kosakata budaya yang diduga digunakan pada masa prasejarah memberi petunjuk bahwa cocok tanam padi sudah dilakukan pada masa itu. Kosakata yang diteliti adalah kosakata yang diduga termasuk dalam bahasa Melayu Purba, yang merupakan leluhur bahasa Melayu modern dan bahasa Indonesia.

    Ahli bahasa Robert Blust dalam sebuah tulisannya di dalam buku Masa Lampau Bahasa Indonesia, Sebuah Bunga Rampai (1991) menyatakan, dari penelitian kosakata budaya itu diketahui bahwa penutur bahasa Melayu Purba memiliki orientasi kelautan yang kuat. Pada saat yang bersamaan, rakyat mempraktikkan hortikultura ladang, padi gogo, dan umbi-umbian.

    Peneliti JC Anceaux dalam buku yang sama mengutip penelitian Hendrik Kern asal Belanda, menyebutkan bahwa kosakata yang terkait dengan padi ditemukan penutur di bagian barat Austronesia "asal nenek moyang bangsa Melayu" namun tidak ditemukan di wilayah timur.

    Keyakinan Kern makin kuat ketika menemukan kata beras di Indonesia dan kata bras di Tibet yang memiliki arti yang sama. Ia mengatakan, orang Tibet meminjam kata bras dari bahasa Austronesia, yaitu ketika penutur kedua bahasa berhubungan di satu tempat. Tempat pertemuan itu kemungkinan berada di Asia Tenggara.

    Prof Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa (1984) menyatakan, cocok tanam padi dengan sistem peladangan diduga berasal dari Birma Utara. Sistem itu kemudian menyebar ke Semenanjung Melayu hingga di Kepulauan Nusantara ( Indonesia dan Filipina) pada saat migrasi.

    Teknologi

    Sampai awal abad Masehi, pertanian padi di Nusantara diperkirakan masih sederhana. Pertanian padi masih tetap berbentuk perladangan, seperti padi huma yang masih ditemukan di sejumlah daerah di Jawa Barat. Relatif tidak ada sentuhan teknologi.

    Sentuhan teknologi cocok tanam padi mulai muncul ketika pengaruh India masuk. Di dalam beberapa tulisan di jurnal Orissa Review, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Orissa di India, disebutkan bahwa bangsa Kalinga (nama sebelum Orissa) yang berada di India selatan itu masuk ke wilayah Jawa sekitar abad keempat. Kedatangan mereka yang terdiri dari berbagai kasta membawa pengaruh dalam teknologi penanaman padi.

    Kasta brahmana yang berkuasa atas ilmu pengetahuan antara lain membawa metode penanaman padi dengan pengairan. Kaum brahmana memperkenalkan sejumlah teknologi yang memungkinkan produksi padi meningkat.

    Setelah itu, nenek moyang kita mulai menanam padi dengan cara pengairan atau yang sekarang dikenal dengan sawah. Sejumlah kakawin dan kidung berbahasa Jawa Kuno (abad ke-8-14) yang diteliti oleh Prof PJ Zoetmulder di dalam buku Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983) telah menyebut keberadaan sawah. Di dalam kakawin itu dikisahkan, raja mendatangi kawasan pedesaan dan melihat sejumlah orang menanam padi.

    Dalam salah satu kakawin juga disebutkan, beberapa biarawan terlihat menanam padi. Ada juga penyebutan keberadaan lumbung padi. Sayang sekali jumlah informasi mengenai budidaya padi memang sangat minim di dalam kakawin ataupun kidung karena karya sastra ini lebih banyak berbicara dalam tataran keraton.

    Catatan yang agak lebih komplet terdapat di dalam kitab Desawarnana atau Negarakertagama. Di dalam kitab ini diceritakan tentang raja yang memanggil rakyatnya untuk membuka hutan, kemudian menjadikannya lahan untuk sawah. Rakyat yang mendapat hak untuk mengelola lahan itu harus membayar pajak ke raja. Sawah beririgasi juga sudah disebut dalam kitab itu.

    Selama masa Majapahit, ekspor beras juga sudah dilakukan. Meski demikian, Koentjaraningrat telah menyebut adanya petani miskin di desa yang serba miskin, di samping mereka yang bergaya hidup keraton dengan segala kemewahannya.

    Setelah Majapahit, catatan mengenai budidaya padi terdapat di Mataram. Di dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya (1996) karya Dennys Lombard terdapat catatan mengenai kepemilikan sawah. Di Mataram, sawah tidak hanya dimiliki oleh raja, tetapi juga oleh bangsawan. Bangsawan berhak mengelola lahan yang kemudian dikerjakan oleh rakyat biasa.

    Di dalam buku yang sama disebutkan, tahun 1804 Residen Yogyakarta Matthias Waterloo mencatat mengenai kondisi produksi padi. "Cukuplah kita bandingkan daerah penghasil padi sekarang dan dua puluh tahun sebelumnya," katanya.

    Ketika Inggris berkuasa di Jawa, Gubernur Jenderal TS Raflles (1811-1816) juga menulis, sedikit negeri yang rakyatnya bisa makan sebaik di Jawa. Jarang orang pribumi yang tidak dapat memperoleh satu kati beras yang dibutuhkan per hari. Di dalam bukunya berjudul History of Java (1817), Raflles merinci berbagai alat yang digunakan untuk budidaya padi.

    Catatan oleh penulis lainnya menyebutkan, di Kesultanan Yogyakarta beras masih merupakan komoditas ekspor utama, selain produk lainnya seperti tembakau, batik, dan kain.

    Di samping berbagai catatan di atas, keberadaan mitos mengenai dewi pelindung pertanian, yaitu Dewi Sri, membuktikan bahwa budidaya padi merupakan bagian hidup yang penting dari masyarakat di Nusantara, terutama Jawa. Hingga kini pemujaan terhadap Dewi Sri masih dilakukan petani di berbagai daerah.

    Di dalam buku Serat Cariyos Dewi Sri disebutkan, cerita tentang Dewi Sri merupakan salah satu hasil karya sastra Jawa. Cerita itu mengisahkan turunnya Dewi Sri dari surga ke dunia dengan membawa benih padi yang kemudian menjadi bahan makanan pokok orang Jawa. Dewi Sri dianggap sebagai tokoh mistis yang dapat memengaruhi kehidupan manusia sebagai pelindung pertanian.

    Kemiskinan

    Kisah-kisah petani padi setelah pertengahan abad ke-19"sejak tanam paksa diberlakukan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830)"makin banyak diwarnai kisah pilu. Pada masa itu mulai terdapat kelaparan di berbagai daerah seperti di Cirebon akibat konversi sawah menjadi lahan perkebunan.

    Peneliti Peter Boomgard dalam disertasinya tahun 1989, yang kemudian menjadi buku dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Anak Jajahan Belanda, menyebutkan, meski selama tahun 1815-1880 mayoritas terbesar penduduk Jawa bekerja di sektor pertanian, makin banyak penduduk di daerah pedesaan terlibat dalam kegiatan nonpertanian sebagai sumber penghasilan.

    Citra Jawa pada abad ke-19"yang juga terus terjadi hingga kini"adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau itu memang dihuni jutaan petani yang harus hidup dari petak-petak tanah mereka yang kecil dan jutaan kuli yang berusaha untuk hidup di daerah perkotaan yang padat penduduk. Laporan kelaparan kembali terjadi setelah krisis ekonomi 1930.

    Situasi itu sebenarnya sudah meresahkan. Peneliti Prof WF Wertheim pernah mengatakan, ketimpangan yang semakin besar di Jawa hanya tinggal menunggu "tutupnya meledak". Meski demikian, ada juga yang sependapat dengan Prof C Geertz bahwa kaum tani Jawa tidak akan menuju situasi eksplosif, tetapi akan puas dengan "berinvolusi" karena sudah terbiasa "berbagi kemiskinan".

    Koentjaraningrat pernah mengusulkan suatu studi mengenai para petani miskin yang tidak memiliki tanah ini dapat menyesuaikan diri dengan suatu kehidupan yang penuh kesengsaraan dan dapat bertahan hidup di daerah pedesaan di Jawa.

    Agraris

    Apa pun situasinya pada masa lalu dan masa sekarang, pengakuan terhadap nenek moyang kita yang adalah petani padi tidak bisa dihindari. Bila pembaca kurang percaya dengan penyataan ini, telitilah nama orangtua kita atau kakek-nenek kita sendiri, dengan mudah ditemukan bahwa nenek moyang kita memang petani padi.

    Bila saja pendahulu kita bernama tidak jauh dari nama Ponimin, Parjiman, Mujinem, Mujirah, Parijan, dan lain-lain, sebenarnya asal- usul kita memang dari generasi petani padi masa lalu. Seorang peneliti bernama R Hatley (1977) pernah menyelidiki sejumlah nama penduduk di Jawa. Ia menemukan beberapa nama yang menunjukkan asal lingkungannya adalah dusun-dusun agraris.

    Dari kenyataan ini, masihkah kita membiarkan petani padi sengsara, padahal kita tahu persis mereka adalah nenek moyang kita" Korea Selatan dan Jepang menggunakan kisah, sejarah, dan tradisi nenek moyangnya dalam berdiplomasi di forum internasional agar para petani mendapat perlindungan yang memadai.



    sumber artikel dari "sini"


  6. #46
    Lurah permenkaretmolor will become famous soon enough permenkaretmolor's Avatar
    Tanggal Gabung
    Oct 2008
    Lokasi
    bersemayam di mulkipli
    Posts
    364
    Rep Power
    7

    Default


    Gejok Lesung

    Salah satu kesenian tradisional di Kabupaten Bantul yang berkembang dalam nuansa masa panen padi, adalah Gejog Lesung. Kesenian rakyat ini berasal dari suara alu atau alat dari kayu yang dipukul-pukulkan secara teratur pada kayu besar yang dibuat seperti perahu yang disebut lesung. Pada umumnya, lesung dibuat dari kayu nangka atau munggur.

    Pada jaman dahulu, lesung digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk memisahkan padi dari tangkai-tangkainya. Padi kering dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk dengan alu secara berirama. Setelah jaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena dinilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak.




    Kini, lesung tetap dilestarikan sebagai kesenian tradisional. Suara alu yang dipukul-pukulkan pada lesung secara berirama itulah letak seninya. Penabuhnya sekitar lima sampai enam orang. Untuk memunculkan variasi suasana, kini suara lesung dipadukan dengan nyanyian tradisonal, yang dibawakan secara berkelompok. Ada sekelompok orang yang nembang atau menyanyi sambil lenggak-lenggok menari. Ada pula kelompok yang lain menari, meliak-liukkan tubuhnya sambil sekali-kali berputar-putar sebagaimana layaknya menari dengan iringan gamelan lengkap.



    sumber artikel dari "sini"

    "suro sudiro jayaning kang rat, siuh brasto ulah cekaping darmastuti"

  7. #47
    Walikota etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca's Avatar
    Tanggal Gabung
    Nov 2008
    Lokasi
    aarde
    Posts
    1.771
    Rep Power
    11

    Default

    mau ikutan nyiksa kang mbahmbung ah

    Aneka makanan dari nasi
    *copas dari forum sebelah*

    NASI UDUK (Jakarta) ......................NASI BIRYANI



    NASI BOJARI .................................NASI KERABU



    NASI MINYAK ............................... NASI BABUI AMP. SIOK



    NASI IMPAT & KUAH KACANG ..................NASI AMBENG



    NASI JAMBLENG .............................NASI LIWET

    simpel aja

  8. #48
    Walikota etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca's Avatar
    Tanggal Gabung
    Nov 2008
    Lokasi
    aarde
    Posts
    1.771
    Rep Power
    11

    Default

    nasi goreng..............................SAMBAL GORENG EBI



    Resepnya:
    500 gram beras
    200 gram sambal goreng ebi
    4 biji telur ayam
    3 sendok makan sambal badjak

    masak beras

    goreng telur di wajan (pakai minyak), aduk sampai matang
    masukkan nasi, sambal goreng ebi, dan sambal badjak
    aduk

    selesai


    NASI TUMPENG ISTEMEWA ... NASI TUMPENG




    cetakan tumpeng
    simpel aja

  9. #49
    Walikota etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca's Avatar
    Tanggal Gabung
    Nov 2008
    Lokasi
    aarde
    Posts
    1.771
    Rep Power
    11

    Default

    NASI TIMBEL PARAHYANGAN ……………………



    NASI AYAM PENYET …………..........…NASI GORENG PATAYA



    NASI AYAM BERINGIN ……………….NASI CAMPUR



    NASI LEMAK …………………............…NASI LEMAK

    simpel aja

  10. #50
    Walikota etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca's Avatar
    Tanggal Gabung
    Nov 2008
    Lokasi
    aarde
    Posts
    1.771
    Rep Power
    11

    Default

    LONTONG BALAP ……................... LONTONG GORENG



    LONTONG SAYUR ..LONTONG CAP GOMEH



    TAHU LONTONG

    simpel aja

Thread Yang Serupa

  1. 7 Orang Yang Mengukir Sejarah Tentang Seks
    By Hktoyshop in forum Warung Kopi
    Jawab: 24
    Postingan Terakhir: 28-08-10, 02:39 PM
  2. Jawab: 2
    Postingan Terakhir: 14-12-09, 01:28 PM
  3. Sedikit Sejarah Tentang Mobil
    By kang_cute in forum Diskusi Bebas
    Jawab: 3
    Postingan Terakhir: 20-10-09, 02:40 PM
  4. tanya tentang sejarah leak bali.....
    By anubis_dewa in forum Dunia Lain
    Jawab: 1
    Postingan Terakhir: 13-07-08, 12:07 AM
  5. PADI They are back!
    By Good Dog in forum Pojok Musik
    Jawab: 10
    Postingan Terakhir: 18-06-05, 10:18 PM

Add More Tags

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • Kamu tidak diijinkan edit postinganmu