Hai.. hai...
Apabila kamu melihat tulisan ini berarti kamu belum terdaftar sebagai warga KL. Ayo gabung dengan Daftar terlebih dahulu, tentunya kamu akan menemukan banyak teman untuk saling berbagi informasi ataupun solusi di forum ini.
filosofi batik - Halaman 6

+ Reply to Thread
Hal. 6 dari 7 PertamaPertama ... 4 5 6 7 TerakhirTerakhir
Menampilkan 51 s/d 60 dari 62

Thread: filosofi batik

  1. #51
    Walikota etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca is just really nice etca's Avatar
    Tanggal Gabung
    Nov 2008
    Lokasi
    aarde
    Posts
    1.771
    Rep Power
    10

    Default

    fontnya digedein dunk..
    siwerrr kiii
    simpel aja

  2. #52
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    POLA BATIK

    Pola Batik Semen


    Oleh : Ny. Toetti Toekajati Soerjanto


    I. Pendahuluan


    Pola batik semen tampil dalam batik dari setiap daerah, terutama di Pulau Jawa, yang meliputi antara lain Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Cirebon. Pola batik semen dijumpai terutama pada jenis Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran, Batik Petani, dan Batik Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pola batik semen terdapat pada sebagian besar jenis batik. Pola semen sangat mudah dikenali karena mempunyai ragam hias penyusun yang khas yang selalu hadir dalam pola-polanya.


    II. Sejarah Pola Semen


    Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono IV (1787 1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota sebagai calon penggantinya. Beliau menciptakan pola tersebut guna mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang penguasa seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan Wibisana saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan sebutan Hasta Brata.
    Wejangan ini terdiri dari 8 (hasta) hal yang masing-masing ditampilkan dalam pola semen dengan bentuk ragam-ragam hias yang mempunyai arti filosofis sesuai dengan makna masing masing ragam hias tersebut. Oleh karena itu, pola batik ciptaan beliau tersebut diberi nama semen Rama (dari Prabu Rama). Berdasarkan uraian diatas nampak bahwa pola semen merupakan salah satu pola batik yang mencerminkan pengaruh agama Hindhu-Budha pada batik. Hal tersebut dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu kira-kira pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, abad 17 M), peradaban di kerajaan tersebut masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat dipengaruhi oleh agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada unsur-unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam upacara adat dan keagamaan hingga saat ini.
    Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak zaman Mataram (pada masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong lebih muda. Pola semen yang diciptakan setelah pola semen Rama selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu ragam hias yang selalu harus dihadirkan dan merupakan ciri dari sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau meru. Hal ini disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias tersebut.
    Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal dari kata Mahameru yaitu gunung tertinggi tempat bersemayam para dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat tanah tempat tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.
    Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain pola-pola batik Lung-lungan Buketan, Dan Pinggiran.


    III. Perkembangan Pola Semen


    Sebagaimana disebutkan diatas, pola semen pertama-tama menampilkan ragam-ragam hias yang mengikuti arti filosofis agama Hindhu (diambil dari ceritera Ramayana), sehingga arti filosofis pola semen sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Hastabrata Ramayana.
    Dalam perkembangan selanjutnya, kandungan nilai filosofis pola semen, selain yang dilambangkan oleh ragam hias dari Hastabrata, ada pula yang ditambah dengan ragam-ragam hias lain yang menjadi dasar pemberian nama polanya, sebagai contoh adalah pola semen Gajah Birawa. Dalam pola tersebut nampak adanya ragam hias berupa gajah, pada semen rante terdapat bentuk-bentuk seperti rantai, dan seterusnya. Selain itu, banyak pola semen dengan ragam hias pokok yang sudah mengalami improvisasi sesuai selera penciptanya tetapi tetap alam arti filosofis yang sama, diberi nama yang mempunyai arti sebagai cerminan serta harapan. Sebagai contoh adalah semen Sidoasih dengan berbagai versi namun mencerminkan arti yang sama.


    IV. Jenis jenis batik yang memiliki pola semen


    1. Batik Kraton - Kraton Yogyakarta (semen gurdho, semen sinom), Kraton Surakarta (semen gendhong, semen rama), Puro Pakualaman (semen sidoasih), Puro Mangkunegaran (semen jolen), Cirebon (semen rama, sawat pengantin).
    2. Batik Pengaruh Kraton - Banyumas (semen klewer banyumasan).
    3. Batik Sudagaran - Yogyakarta (semen sidoasih, semen giri), Surakarta (semen rama, semen kakrasana).
    4. Batik Pedesaan - Yogyakarta (semen rante), Surakarta (semen rama).
    5. Batik Indonesia

    Bermacam-macam pola semen terdapat dalam jenis Batik Indonesia ini. Bahkan pada pemunculan pertamanya yaitu kurang lebih pada tahun 1950, pola batik semen mendominasi jenis Batik Indonesia ini disamping pola parang dan lereng karena pada prinsipnya Batik Indonesia merupakan perpaduan antara pola batik klasik atau tradisional (pola semen dan pola parang atau lereng) dengan pewarnaan Batik Pesisiran.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  3. #53
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Contoh Pola Batik Semen


    Blenderan





    Cuwiri





    Cuwiri Ceceg





    Cuwiri Sala





    Semen Condro





    Semen Gunung





    Semen Gurdo





    Semen Jlekethit





    Jlekethit - Keraton Sala





    Semen Nogo


    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  4. #54
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Pola Batik Nitik


    Oleh: Ny Ir. Toetti T. Surjanto


    Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung makna filosofis pada setiap motifnya.

    Penampilan sehelai batik tradisional baik dari segi motif maupun warnanya dapat mengatakan kepada kita dari mana batik tersebut berasal. Motif batik berkembang sejalan dengan perjalanan waktu, tempat, peristiwa yang menyertai, serta perkembangan kebutuhan masyarakat. Sering kali tempat memberi pengaruh yang cukup besar pada motif batik. Meskipun berasal dari sumber atau tempat yang sama, namun karena tempat berkembangnya berbeda, maka akan menghasilkan motif baru yang berbeda pula. Sebagai contohnya adalah motif Nitik.


    Motif Nitik sebenarnya berasal dari pengaruh luar yang berkembang di pantai utara laut Jawa, sampai akhirnya berkembang pula di pedalaman menjadi suatu motif yang sangat indah. Pada saat pedagang dari Gujarat datang di pantai utara pulau Jawa, dalam dagangannya terdapat kain tenun dan bahan sutera khas Gujarat. Motif dan kain tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang disebut "Patola" yang dikenal di Jawa sebagai kain "cinde". Warna yang digunakan adalah merah dan biru indigo.


    Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir maupun pedalaman, bahkan lingkungan Kraton. Di daerah Pekalongan terciptalah kain batik yang disebut Jlamprang, bermotif Ceplok dengan warna khas Pekalongan. Karena terinspirasi motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan Patola. Karena kain batik Jlamprang berkembang di daerah pesisir, maka warnanya pun bermacam-macam sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah rnerah, hijau, biru dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.


    Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, Nitik dari Yogyakarta juga diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain seperti, cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan ada yang diberi ornamen batik dengan Klowong maupun Tembokan, sehingga penampilannya baik bentuk dan warnanya lain dari motif Jlamprang Pekalongan. Nitik dari Yogyakarta menggunakan warna indigo, soga (coklat) dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari Kraton lainnya, motif Nitik kreasi Kraton juga berkembang keluar tembok Kraton. Lingkungan Kraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif Nitik yang indah adalah Ndalem Brongtodiningrat. Pada tahun 1940, GBRAy Brongtodiningrat pernah membuat dokumen diatas mori berupa batik kelengan dan lima puluh enam motif Nitik. Sejak kira-kira tahun 1950 sampai saat ini, pembatikan yang membuat batik Nitik adalah Desa Wonokromo dekat Kotagede.


    Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang berbeda dengan canting biasa. Canting tulis Nitik di buat dengan membelah lubang canting biasa ke dua arah yang saling tegak lurus. Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru, proses mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja, atau bila ada bagian klowongnya. Agar warna soga dapat masuk di bagian motif yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang sangat kecil tersebut, maka bagian tersebut "diuyek" sehingga pada bagian tertentu lilinnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya. Oleh karena itu untuk membuat batik Nitik memerlukan lilin khusus yaitu lilin yang kekuatan menempelnya antara lilin klowong dan lilin tembok. Langkah selanjutnyaadalah "mbironi", menyoga dan akhimya "melorod".


    Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar motif Nitik di beri nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekar randu, dan sebagainya. Ada pula yang di beri nama lain, misalnya, nitik cakar, nitik jonggrang, tanjung gunung dan sebagainya. Selain tampil sendiri, motif Nitik sering di padu dengan motif Parang, ditampilkan dalam bentuk ceplok, kothak atau sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagal motif untuk sekar jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu macam maupun bermacam-macam motif Nitik. Tampilan yang merupakan paduan motif Nitik dengan motif lain membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian dan sebagainya.


    Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis, misalnya nitik cakar yang sering digunakan pada upacara adat perkawinan. Diberi nama demikian karena pada bagian motifnya terdapat ornamen yang berbentuk seperti cakar. Cakar yang di maksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini oleh ayam digunakan untuk mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan. Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat perkawinan dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencani nafkah dengan halal sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya. Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau sebagai bagian dan motif kain tertentu, seperti motif Wirasat atau Sidodrajat, yang juga sening digunakan dalam upacara adat perkawinan.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  5. #55
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Contoh Pola Batik Nitik


    Arum Dalu





    Brendi





    Cakar Ayam





    Ceplok Liring





    Cinde Wilis





    Gendhagan





    Jaya Kirana





    Jaya Kusuma





    Kawung Nitik





    Kemukus





    Klampok Arum





    Krawitan





    Kuncul Kanthil





    Manggar


    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  6. #56
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Pola Batik Ceplok


    Sebagian besar Pola Ceplok itu merupakan pola-pola batik kuno yang terdapat pada hiasan arca di Candi Hindu/Budha dengan bentuk kotao-kotak, lingkaran, binatang, bentuk tertutup serta garis-garis miring.
    Pola dasar yang terdapat pada candi Hindu di arca Ganesha dari Banon Borobudur, arca Hari Hara dari Blitar, Ganesha dari Kediri dan arca arca Parwati dari Jawa merupakan pola dasar dari pola Kawung.


    Dasar pola Ceplok terdapat di arca Budha antara lain Budha Mahadewa dari Tumpang dan arca Brkhuti dari candi Jago.
    Terlihat dari uraian diatas pola Kawung merupakan pola ceplok tertua dan terdiri dari 4 ragam hias elips atau lingkaran yang disusun sedemikian rupa sehingga keempatnya besinggungan satu sama lainnya dan ditengahnya terdapat ragam hias Mlinjon.
    Selanjutnya elips/lingkaran ini dimodifikasi dengan menambah ragam hias isen atau mengubah bentuk sehingga diperoleh pola kawung yang indah dan beragam dengan nama beragam pula, antara lain kawung prabu, brendi, geger mendut, gelar, sisik dan sebagainya.
    Dari ukuran lingkaran juga diciptakan berbagai pola seperti kawung ndil, sen, benggol, semar, raja dan lainnya.


    Pola Kawung seperti halnya pola nitik, pola banji, pola ganggong karena jumlahnya sangat banyak sering dikelompokan sebagai pola tersendiri. Dengan demikian pembagian golongan dalam pola geometris menjadi golongan Ceplokan, golongan pola Kawung, Pola Nitik, Pola Ganggong, Pola Banji, Pola Parang dan pola Lereng.
    Pola Ceplok kuno Yogyakarta adalah dari keraton Kotagede [Mataram] sedangkan pola Ceplok Surakarta diciptakan setelah pembagian kerajaan Mataram menjadi dua.
    Kadang ada pola yang dinamakan sama tetapi polanya beda antara satu tempat dan lainnya, seperti pola ceplok Yogya kadang mempunyai nama sama dengan pola semen Surakarta, contohnya pola ceplok Kokrosono di Yogya kalau di Surakarta dikenal sebagai pola Semen.

    Contoh Pola Batik Ceplok

    Ambar Kumitir


    Campur Sari


    Dhempel


    Ganggong


    Keteblem


    Kitiran


    Lintang Rahino


    Namnaman Ceplok Rider


    Peksi Kekaring


    Ratu Ratih Yogya


    Rider


    Ron Telo


    Tri Mino


    Wastra Bawana
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  7. #57
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    MOTIF CIREBON

    Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.
    Menurut sejarahnya, di daerah Cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.

    Batik Tiga Negeri


    Motif Dewa-Dewa


    Primisan


    Obar-Abir


    Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.
    Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.

    Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  8. #58
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    MOTIF YOGYAKARTA

    BATIK CUWIRI [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai “Semek’an” dan Kemben. Dipakai saat upacara “mitoni”
    Unsur Motif : Meru, Gurda
    Filosofi : Cuwiri artinya kecil-kecil, Diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati

    BATIK SIDO MUKTI [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain dalam upacara perkawinan
    Unsur Motif : Gurda
    Filosofi : Diharapkan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.

    BATIK KAWUNG [Batik Tulis]

    Zat Warna : Naphtol
    Kegunaan : Sebagai Kain Panjang
    Unsur Motif : Geometris
    Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan

    BATIK PAMILUTO [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
    Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya
    Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].

    BATIK PARANG KUSUMO {Batik Tulis]

    Zat Warna : Naphtol
    Kegunaan : Sebagai kain saat tukar cincin
    Unsur Motif : Parang, Mlinjon
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah

    BATIK CEPLOK KASATRIAN [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain saat kirab pengantin
    Unsur Motif : Parang, Gurda, Meru
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Dipakai golongan menengah kebawah, agar terlihat gagah

    BATIK NITIK KARAWITAN [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain panjang
    Ciri Khas : Kerokan
    Unsur Motif : Ceplok
    Filosofi : Pemakainya orang yang bijaksana

    BATIK TRUNTUM {Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Dipakai saat pernikahan
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.

    BATIK CIPTONING [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain panjang
    Unsur Motif : Parang, Wayang
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Diharapkan pemakainya menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk jalan yang benar

    BATIK TAMBAL [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai Kain Panjang
    Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru

    BATIK SLOBOG [Batik Tulis]

    Zat Warna : Naphtol
    Kegunaan : Sebagai kain panjang
    Unsur Motif : Ceplok
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Slobog bisa juga “lobok” atau longgar, kain ini biasa dipakai untuk melayat agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap yang kuasa

    BATIK PARANG RUSAK BARONG [Batik Tulis]

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain panjang
    Unsur Motif : Parang, Mlinjon
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Parang menggambarkan senjata, kekuasaan. Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.

    BATIK UDAN LIRIS

    Zat Warna : Soga Alam
    Kegunaan : Sebagai kain panjang
    Unsur Motif : Kombinasi Geometris dan Suluran
    Ciri Khas : Kerokan
    Filosofi : Artinya udan gerimis, lambang kesuburan
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  9. #59
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    Proses pembuatan kain batik

    1. kain mori dibuat sketsa menggunakan pensil



    2. sketsa kemudian dilukis menggunakan malam (lilin)



    namun ada juga yang langsung diwarnai



    3. setelah dilukis, kain dimasak ke dalam larutan pewarna





    4. lalu dijemur dgn cara diangin-anginkan



    Berikut adalah kain batik dipakai oleh para Puteri Keraton Yogyakarta
    (jangan membayangkan mrk masih muda2 yah, hehehe)
    Perhatikan cara pemakaian batik mrk yg berbeda2
    (jangan tanya saya berbagai tata cara pemakaiannya, soalnya saya juga ngga tau)







    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


  10. #60
    Gubernur Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo has a brilliant future Butogamo's Avatar
    Tanggal Gabung
    Feb 2009
    Lokasi
    Bandung
    Posts
    5.627
    Rep Power
    28

    Default

    PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK SECARA DETAIL


    NGANJI

    Proses Nganji - from Handbook of Indonesian Batik


    Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan.
    Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.


    NGEMPLONG

    Proses Ngemplong - from Handbook of Indonesian Batik


    Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan.
    Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan lemas. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula.
    Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik.


    NGLOWONG, Pelekatan malam [lilin] yang pertama.

    Proses Nglowong dengan cap - [Vie]



    Proses Nglowong dengan canting - [Vie]


    Selesai dikemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik pembikinan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya diatas mori dengan menggunakan canting
    Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai dilanjutkan dengan nerusi pada sebelah lainnya


    NEMBOK, pelekatan malam kedua

    Proses Nembok - [Vie]


    Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat perwarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.
    Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena tembokannya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur2 berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet agar mudah dikerok.


    MEDEL, Pencelupan pertama dalam zat warna
    Tujuan Medel adalah memberi warna biru tua sebagai warna dasar kain. Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari karena menggunakan bahan pewarna indigo [bahasa jawanya : tom]
    Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa dilakukan dengan cepat.



    NGEROK, Menghilangkan malam klowong
    Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan Cawuk [semacam pisau tumpul dibuat dari seng] untuk menghilangkan malam nya.


    mBIRONI, Penggunaan malam ke tiga
    Pekerjaan berikutnya adalam mBironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mBironi ini dikerjakan didua sisi kain.


    MENYOGA, Pencelupan kedua

    Proses Me"Nyoga" - [Vie]


    Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelup kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus berulang.
    Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan menggunakan soga sintetis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya menghasilkan warna soga [coklat] bila direndam di air.


    NGLOROD, Menghilangkan malam

    Proses Nglorod - [Vie]


    Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan, caranya dengan dimasukkan kedalam air mendidih yang disebut Nglorod.
    gw ini sebetulnya lucu lho
    sumpah demi Tuhan


Thread Yang Serupa

  1. All About Batik , Baju Batik Pria dan Fashion Pria , kualitas tinggi
    By bajubatikorg in forum Fashion Plus Asesoris
    Jawab: 0
    Postingan Terakhir: 13-10-09, 06:28 PM
  2. Jawab: 7
    Postingan Terakhir: 13-10-09, 09:28 AM
  3. filosofi kehidupan..
    By OnteL_inside in forum Sup Ayam
    Jawab: 7
    Postingan Terakhir: 27-11-08, 09:33 AM
  4. Filosofi KISS (Keep It Simple Stupid)
    By Chibi Maruko Chan in forum Sup Ayam
    Jawab: 1
    Postingan Terakhir: 04-08-06, 05:05 PM
  5. Filosofi Cinta Dan Pernikahan
    By armorezta in forum Diskusi Bebas
    Jawab: 10
    Postingan Terakhir: 03-07-05, 04:13 AM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • Kamu tidak diijinkan edit postinganmu