|
![]() |
|
|
Thread Tools | Display Modes |
|
#1
|
||||
|
||||
|
Jumat, 9 Januari 2009 | 17:28 WIB Kompas
http://www.kompas.com/read/xml/2009/...h.terabaikan.. JAKARTA, JUMAT — Tahun 2008, hak-hak konsumen masih terabaikan. Berbagai persoalan mendasar masih saja merugikan konsumen, dan lebih parah dari tahun sebelumnya. Berbagai pasokan kebutuhan pokok acap mengalami krisis. Kalau pun ada, kualitasnya tidak memenuhi standar aman untuk dikonsumsi. "Yang mendasar adalah jaminan ketersediaan. Kalau barang tidak ada, harga dinaikkan. Ini menjadi masalah, terutama terkait dengan elpiji, seperti tidak ada tanggung jawab pemerintah," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Huzna G Zahir saat memaparkan Catatan Perlindungan Konsumen 2008 dan Teropong 2009 di Jakarta, Jumat (9/1). Huzna menyatakan, tahun 2008 ditutup dengan kelangkaan bahan bakar elipiji yang merupakan bahan bakar rumah tangga andalan keluarga, terlebih setelah adanya program konversi minyak tanah ke elpiji. Kenyataannya, elpiji lenyap dari pasaran. Banyak alasan diberikan Pertamina dan pemerintah. Penurunan harga bahan bakar minyak bersubsidi, premium dan solar, menurut Huzna, tidak cukup menggembirakan masyarakat. Kebijakan menurunkan harga BBM patut diapreasiasi. Namun, penurunan harga BBM tidak dinikmati masyarakat bawah karena pengusaha transportasi enggan menurunkan tarif. "Ketika harga BBM turun, mereka berkokok bahwa BBM tidak signifikan untuk biaya produksi. Harga onderdil lebih signifikan, kata asosiasi pengusaha angkutan darat Organda," kata Huzna. Sepanjang 2008, masyarakat juga dibuat khawatir atas kondisi pasokan pangan. Krisis pangan global seolah menjadi pembenaran melonjaknya harga berbagai bahan pangan seperti beras, kedelai, dan minyak goreng. "Sebenarnya, Indonesia tidak perlu ikut terkena krisis apabila kebijakan pangan pemerintah lebih mendahulukan peningkatan produksi dalam negeri ketimbang membiarkan impor," kata Huzna. Di samping itu, khusus terkait kedelai, impor yang setiap tahun selalu meningkat memberikan peringatan lain bagi semua konsumen. Kata Huzna, kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat dapat dipastikan merupakan kedelai transgenik. Meskipun Indonesia telah meratifikasi Protokol Cartagena dan mempunyai Undang-Undang Pangan dan PP Label dan Pangan yang mengamanatkan kajian keamanan dan pelabelan produk transgenik, pada kenyataannya masih belum diterapkan sampai saat ini. Belum ditetapkannya Komite Keamanan Hayati selalu menjadi alasan untuk menunda penerapan pelabelan pangan transgenik. Ketidakamanan pangan juga masih menjadi isu sentral di sektor pangan. Bahkan, variasinya lebih luas lagi. Temuan susu formula mengandung bakteri Enterobacter Sakazaki, produk impor susu dan turunannya yang mengandung melamin cukup menggegerkan, terutama konsumen yang memiliki bayi dan balita. Kasus lain yang menunjukkan makin "kreatifnya" orang dalam berusaha adalah ditemukannya produk pangan daur ulang. "Produk pangan yang sudah kadaluarsa atau sisa-sisa makanan restoran diolah dan diperjualbelikan kembali," kata Huzna. Jelas ini memprihatinkan konsumen Indonesia. Menurut Kawan-kawan : 1. Apakah Pemerintah gagal dalam Konversi Minyak Ke Gas ??? 2. Apakah Pemerintah Sudah Tidak Memperdulikan rakyatnya dan konsumen "Produk pangan yang sudah kadaluarsa atau sisa-sisa makanan restoran diolah dan diperjualbelikan kembali," kata Huzna. Jelas ini memprihatinkan konsumen Indonesia. ? 3. Apakah Perusahaan di Indonesia Lebih Kepada Profit saja tidak memperdulikan hak konsumen terhadap suatu produk ? Kalau jawaban gw : 1. Gagal, karena banyak salah sasaran dalam pembagian kompor gas ![]() mungkin cadangan gas indonesia tidak ada sehingga langka ![]() 2. Iya Dewasa ini pemerintah tidak terlalu memperhatikan rakyatnya sebagai contoh di daerah penghasil beras terbesar di jawa barat saja masyarakat masih banyak makan nasi aking dan juga Pemerintah banyak mengurangi lahan pertanian menjadi daerah perumahan sehingga indonesia tidak akan lama lagi krisis pagan. ![]() ![]() 3. Iya. |
|
#2
|
||||
|
||||
|
Quote:
2. Kalo menurut aku sih, tidak sepenuhnya ditinggalkan, tapi tantangan ini terjadi di kalangan masyarakat "kurang beruntung" yang tingkat kepeduliannya sendiri terhadap higiene kadang rendah dan kurang memperhatikan, lha gimana, di otak mereka yang ada aku harus kenyang... dan lebih prihatin lagi, mereka hanya mampu mendapat makanan jenis ini, dan suara mereka juga kurang terdengar, entah karena tidak ada yang peduli atau memang mereka sudah puas dengan apa yang ada 3. Kalo pertanyaan ini susah2 gampang, ada yang peduli, ada yang ndak, dan yang peduli jauh lebih sedikit daripada yang ndak, dan yang keliatan, tentunya yang ndak peduli, dan udah gitu, dalam 1 perusahaan, ada yang peduli, ada yang ndak... gitu deh... tapi pengalaman yang jelas, unutk barang2 konsumsi, mereka2 yang peduli akhirnya demi menjaga kualitas, harus menaikkan biaya, jadi.. barang2 yang "memenuhi atau melebihi standar" harganya tinggi... Lingkaran Setan di negara kita.. hiks..
__________________
I HATE WIDE PEOPLE They Are Copies of Me! |
|
#3
|
||||
|
||||
|
Quote:
sudah menjadi rahasia umum berlaku hukum pasar, naiknya demand (permintaan) pasti diimbangi naiknya harga.. nah dalam hal ini pemerintah blom siap saat permintaan terhadap elpiji meningkat.. sedangkan produksi /pengadaan tabung baru aja pertamina masih terseok2.. kendala harga baja yg mahal dan kuota produksi yg masih terbatas, sedangkan pemerintah Untuk memenuhi target konversi 20 juta paket untuk 20 juta KK maka dibutuhkan sekitar 40 juta tabung. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kapasitas produksi nasional hanya 25 juta tabung per tahun. gak bakalan terkejarlah.. 2.banyak produk pangan kadaluarsa yg diolah dan dijualbelikan. menurutku perlu di cari sumber permasalahan kenapa ada warga yg mau mengolah makanan samapah dan menjualbelikan lagi.. selain kemiskinan mungkin karena pemerintah kurang bisa memenuhi harapan dan hak rakyat indonesia dengan memberi pekerjaan yg layak. 3. hukum di indonesia masih berpihak pada perusahaan bermodal besar.. seringnya pengaduan dan klaim dari konsumen tidak jelas penyelasaian dan hasil akhirnya.. makanya masyarakat selaku konsumen pada akhirnya cuma bisa pasrah menerima keadaan, termasuk saat hak2nya sebagai konsumen sering diabaikan.. ditambah lagi banyak perusahaan yg memiliki manejemen yg buruk. divisi/bagian pengaduan masyarakat cuma sebagai pelengkap aja dlam perusahaan tsb. bener kata koh arie.. mata rantai yg memusingkan di negeriku ini.. |
|
#4
|
|||
|
|||
|
memang konsumen seperti kita ini selalu dirugikan...
|
|
#5
|
|||
|
|||
|
bukan hak konsumen d yg dibicarakan ts, tapi hak sebagai warga negara
__________________
my newest website : http://www.online-web-store.co.cc/ , http://www.jasawebdesign.co.cc/ 3 box kartu nama full colour hanya Rp. 150 ribu, murah bangetz |
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | Thread Starter | Forum | Replies | Last Post |
| Masih Inget Iwa K? | Nong | Hip Hop / R&B | 6 | 05-05-2008 12:28 PM |
| PENGGELAPAN UANG KONSUMEN KARTU KREDIT CITIBANK | georgerahardjo | Diskusi Bebas | 3 | 27-05-2007 06:25 AM |
| Usul: Forum Suara Konsumen | Negosiator | Diskusi Bebas | 5 | 25-09-2006 10:36 AM |
| Masih Bayar | Nyit-nyit | Ketawa dong! | 1 | 11-07-2006 07:13 PM |
| Konsumen resE | mamot_imut | Ketawa dong! | 14 | 26-05-2005 06:48 PM |