MyungRin DodoL
21-02-2005, 05:17 AM
Sekedar berbagi pengalaman, kan kata orang pengalaman adalah pelajaran (guru) terbaik buat kita
Pada Zaman dahulu kala..... beuh... ga enak
ulank!
Beberapa tahun yg lalu, seorang remaja periang (gw nih) sedang bahagia. sebab apa yg diinginkannya akhirnya dapat terujud. yaitu dapat menuai ilmu yg di idam2kannya, yaitu musik.
berbekal lulus UMPTN dan ujian keterampilan di calon kampusnya di bandung, remaja itu pergi meninggalkan kotanya dengan tekad: NIH, GWA ANAK BAND DARI JAKARTA!
modal cukuplah Thrash Metal dan sedikit musik classic. instrumen gitar dan sedikit fasih main drum.
sebelum masuk kuliah, disempatkannya berkenalan dengan beberapa seniornya (gampang dikenali karena kegondrongan mereka)
Senior: Kamu dari Jakarta?
Remaja: Iya
Senior: keren, main musik apa?
Remaja: Thrash gitu.
Senior: Grup?
Remaja: Metallica, Kreator, Anthrax sama Sepultura
Senior: Goblok! grup kaya gitu dimainin. ga ada skillnya.
Remaja: Anjing!!! (tapi dalam hati aja, sebagai thrasher mania hatinya tentu luka)
Masuk kuliah, betapa tercengangnya remaja itu. sebagian teman sekelasnya kaum perempuan mengenakan jilbab (jangan tersinggung dulu plsss).
"Loh, gw salah masuk kelas kali nih," pikir remaja itu
ternyata tidak. seorang pria bule cukup berumur masuk kelas, memperkenalkan dirinya. seorang profesor doctor warga negara Jerman dan menjadi dosen pembimbing khusus kelas si remaja itu.
ternyata... belakangan diketahuinya... 10 orang teman2 sekelasnya masuk kampus itu melalui jalur PMDK. 1 orang dari SMM (sekolah menengah musik) 9 lainnya dari SMKI (sekolah menengah karawitan indonesia). lulusan SMKI lainnya juga ada dan mereka lewat UMPTN.
"belum tentu mereka mengerti musik!" pikir remaja itu.
namun, lagi2 remaja itu tercengang dengan matakuliah yg harus dihadapinya nanti. piano, vokal, paduan suara, angklung, karawitan (gamelan sunda)
"Hah?! Mana kuliah band nya nih?"
beberapa bulan kemudian, mulai terjadi gap antara dua kubu. yaitu kubu mahasiswa musik tradisional lulusan SMKI dengan mahasiswa lulusan SMU (anak2 band)
umumnya yg lulusan SMU menjelek2an rivalnya dengan sebutan: KAMPUNGAN!
lalu yg SMKI? bedebah! ternyata mereka tidak menganggap punya rival, mereka tidak sadar ada gap. artinya, mereka menganggap teman2 lulusan SMU ya sama aja dengan mereka.
lalu remaja ini berdiri dimana?
sebagai mahluk asing di Bandung itu, untungnya remaja itu tau diri. dia lebih memilih diam tak memihak. jadi bisa akrab dengan kubu manapun.
kemudian, hasilnya mulai kelihatan. anak2 band itu satu persatu bermentalan, keluar dari kampus. alasan?
mereka anti karawitan! padahal mata kuliah itu 4 SKS dan berlanjut tiap semester. omg
si remaja, sudah mempunya teman akrab.. sahabat... akhh... bisa dibilang, saudara angkat. yaitu satu mahasiswa yg lulusan smm (udah disebut diatas)
remaja itu kagum kepada sahabatnya... ia mengakui sahabatnya ini anak ajaib. jarinya begitu lincah diatas tuts piano, piawai main gitar, bisa juga main gamelan... tapi ancur di vokal
skill bertambah seiring keakraban mereka. si smm ini ternyata lebih suka Jazz.. otomatis remaja Jakarta itupun ketularan.
bukan hanya itu.. disitu pulalah remaja Jakarta itu mengenal musik kontemporer, experimental de el el.
suatu ketika, kelas kami diundang menghadiri suatu resital (konser) piano musik classic di Hotel Preanger. si remaja berdua datang kesana dg si smm. dilihatnya ada 3 buah kursi masih kosong.. mereka kesana sambil menunggu seorang kawan lagi akan datang juga.
tak disangka, disebelah remaja itu, duduk seorang bule yg sangat dikenalnya... sang Prof. dr. Jerman
ditengah lagu yg sedang dimainkan, si Jerman mencoleknya sambil berbisik... ini Ce minor 9, F maj7, A minor 7-9.. bla bla bla...
si remaja tercengang... bagaimana mungkin bule ini tau akord akord classic yg sedang dimainkan...
dan itu segera dicarinya langsung bertanya pada si bule...
skill pun bertambah.. :aww:
kemudian... kelas mereka diundang lagi menyaksikan konser musik kontemporer di gedung kesenian jakarta.
sebelumnya, Harry Rusli (belum alm) berkata pada pembukaan konser itu, bahwa ketika dirinya pada waktu muda sedang asik2nya ngeband bawain musik rock, dirinya terhasut belajar musik kontemporer oleh si bule (dosen gw).
Kesimpulan yg gw dapet... Harry Rusli dulunya ternyata murid si bule iniiiiii.....
Penerangan dalam ruangan konserpun dimatikan, pemusik2 lokal kontemporer nomer wahid beraksi..........................................
mengakhiri sesi pertama, lampu kembali dihidupkan... terlihat....
hanya 4 orang yg beranjak dari kursinya....
puluhan lainnya.......................... tidur.
si remaja berkata pada si bule dosennya, "pak... musiknya terlalu berat. susah dimengerti."
si bulepun tersenyum.... "apapun jenis musiknya, tidak perlu dimengerti."
"jadi?" sambung si remaja
"nikmati saja" jawab si bule
"musik bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati."
satu pelajaran yg sangat bermakna
"saya lebih menyukai Mozart dan Bach. dan saya tidak suka dengan Beethoven." kata si bule. "tapi walau saya tidak suka Beethoven, saya harus mengenal dan mempelajari karya Beethoven."
si remaja: ooohh....
Pada Zaman dahulu kala..... beuh... ga enak
ulank!
Beberapa tahun yg lalu, seorang remaja periang (gw nih) sedang bahagia. sebab apa yg diinginkannya akhirnya dapat terujud. yaitu dapat menuai ilmu yg di idam2kannya, yaitu musik.
berbekal lulus UMPTN dan ujian keterampilan di calon kampusnya di bandung, remaja itu pergi meninggalkan kotanya dengan tekad: NIH, GWA ANAK BAND DARI JAKARTA!
modal cukuplah Thrash Metal dan sedikit musik classic. instrumen gitar dan sedikit fasih main drum.
sebelum masuk kuliah, disempatkannya berkenalan dengan beberapa seniornya (gampang dikenali karena kegondrongan mereka)
Senior: Kamu dari Jakarta?
Remaja: Iya
Senior: keren, main musik apa?
Remaja: Thrash gitu.
Senior: Grup?
Remaja: Metallica, Kreator, Anthrax sama Sepultura
Senior: Goblok! grup kaya gitu dimainin. ga ada skillnya.
Remaja: Anjing!!! (tapi dalam hati aja, sebagai thrasher mania hatinya tentu luka)
Masuk kuliah, betapa tercengangnya remaja itu. sebagian teman sekelasnya kaum perempuan mengenakan jilbab (jangan tersinggung dulu plsss).
"Loh, gw salah masuk kelas kali nih," pikir remaja itu
ternyata tidak. seorang pria bule cukup berumur masuk kelas, memperkenalkan dirinya. seorang profesor doctor warga negara Jerman dan menjadi dosen pembimbing khusus kelas si remaja itu.
ternyata... belakangan diketahuinya... 10 orang teman2 sekelasnya masuk kampus itu melalui jalur PMDK. 1 orang dari SMM (sekolah menengah musik) 9 lainnya dari SMKI (sekolah menengah karawitan indonesia). lulusan SMKI lainnya juga ada dan mereka lewat UMPTN.
"belum tentu mereka mengerti musik!" pikir remaja itu.
namun, lagi2 remaja itu tercengang dengan matakuliah yg harus dihadapinya nanti. piano, vokal, paduan suara, angklung, karawitan (gamelan sunda)
"Hah?! Mana kuliah band nya nih?"
beberapa bulan kemudian, mulai terjadi gap antara dua kubu. yaitu kubu mahasiswa musik tradisional lulusan SMKI dengan mahasiswa lulusan SMU (anak2 band)
umumnya yg lulusan SMU menjelek2an rivalnya dengan sebutan: KAMPUNGAN!
lalu yg SMKI? bedebah! ternyata mereka tidak menganggap punya rival, mereka tidak sadar ada gap. artinya, mereka menganggap teman2 lulusan SMU ya sama aja dengan mereka.
lalu remaja ini berdiri dimana?
sebagai mahluk asing di Bandung itu, untungnya remaja itu tau diri. dia lebih memilih diam tak memihak. jadi bisa akrab dengan kubu manapun.
kemudian, hasilnya mulai kelihatan. anak2 band itu satu persatu bermentalan, keluar dari kampus. alasan?
mereka anti karawitan! padahal mata kuliah itu 4 SKS dan berlanjut tiap semester. omg
si remaja, sudah mempunya teman akrab.. sahabat... akhh... bisa dibilang, saudara angkat. yaitu satu mahasiswa yg lulusan smm (udah disebut diatas)
remaja itu kagum kepada sahabatnya... ia mengakui sahabatnya ini anak ajaib. jarinya begitu lincah diatas tuts piano, piawai main gitar, bisa juga main gamelan... tapi ancur di vokal
skill bertambah seiring keakraban mereka. si smm ini ternyata lebih suka Jazz.. otomatis remaja Jakarta itupun ketularan.
bukan hanya itu.. disitu pulalah remaja Jakarta itu mengenal musik kontemporer, experimental de el el.
suatu ketika, kelas kami diundang menghadiri suatu resital (konser) piano musik classic di Hotel Preanger. si remaja berdua datang kesana dg si smm. dilihatnya ada 3 buah kursi masih kosong.. mereka kesana sambil menunggu seorang kawan lagi akan datang juga.
tak disangka, disebelah remaja itu, duduk seorang bule yg sangat dikenalnya... sang Prof. dr. Jerman
ditengah lagu yg sedang dimainkan, si Jerman mencoleknya sambil berbisik... ini Ce minor 9, F maj7, A minor 7-9.. bla bla bla...
si remaja tercengang... bagaimana mungkin bule ini tau akord akord classic yg sedang dimainkan...
dan itu segera dicarinya langsung bertanya pada si bule...
skill pun bertambah.. :aww:
kemudian... kelas mereka diundang lagi menyaksikan konser musik kontemporer di gedung kesenian jakarta.
sebelumnya, Harry Rusli (belum alm) berkata pada pembukaan konser itu, bahwa ketika dirinya pada waktu muda sedang asik2nya ngeband bawain musik rock, dirinya terhasut belajar musik kontemporer oleh si bule (dosen gw).
Kesimpulan yg gw dapet... Harry Rusli dulunya ternyata murid si bule iniiiiii.....
Penerangan dalam ruangan konserpun dimatikan, pemusik2 lokal kontemporer nomer wahid beraksi..........................................
mengakhiri sesi pertama, lampu kembali dihidupkan... terlihat....
hanya 4 orang yg beranjak dari kursinya....
puluhan lainnya.......................... tidur.
si remaja berkata pada si bule dosennya, "pak... musiknya terlalu berat. susah dimengerti."
si bulepun tersenyum.... "apapun jenis musiknya, tidak perlu dimengerti."
"jadi?" sambung si remaja
"nikmati saja" jawab si bule
"musik bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati."
satu pelajaran yg sangat bermakna
"saya lebih menyukai Mozart dan Bach. dan saya tidak suka dengan Beethoven." kata si bule. "tapi walau saya tidak suka Beethoven, saya harus mengenal dan mempelajari karya Beethoven."
si remaja: ooohh....