MyungRin DodoL
21-04-2005, 04:20 AM
saya kasih pertanyaan......kamu bisa njawab ndak tor...???
mengapa oh mengapa .....
orang2 malas membicarakan musik dangdhut....?
dari fifi yang asli kediri
sampai rita sugiarto....
ayo dong kita bahas.
sambil goyang.....
:banana: :hiphop: :banana: :hiphop:
ndak pakek.......
:headbang:
apalagi......
:fork:
Sebenarnya hal ini sudah pernah dibahas pada postingan sebelumnya. Tapi nggak ada salahnya kalo kita ulangi lagi. Paling menuh2in forum KL doang.
Mengapa orang agak segan membicarakan/ ngobrolin musik dangdut. Kalau jawabannya soal gengsi, itu karena manusianya sendiri yg mengkondisikan hal tersebut. Seandainya kita dengan santai ngebahas musik dangdut, tentu perasaan gengsi akan hilang dengan sendirinya.
OK. Terlepas dari suka atau tidak suka dengan aliran musik ini, di sini saya berusaha (mudah2an) untuk netral.
Saya akui, perkembangan musik dangdut memang pesat menyebar di semua kalangan, tapi sayangnya, daya kreasi pemusik dangdut sangat kurang. Yang dikedepankan oleh musik dangdut adalah beat/ iramanya saja. Bukan unsur2 lainnya, misalnya akord, running chord, tehknik pemain instrumennya, aransemen, dan masih banyak unsur lainnya.
Dalam musik dangdut, berbagi unsur tersebut tidak penting. Asal sebuah lagu dangdut bisa dipakai buat joget, maka lagu tersebut sudah dianggap memenuhi syarat.
Tetapi dalam jenis musik lain, berbagai unsur itu justru harus ada, agar terdengar jelas, bobot/ kadar keseriusan dari si pencipta/ penggarap musik. Inilah salah satu dari kekurangan musik dangdut, sehingga utk mengeksplorasi hal2 yg baru sangat minim, bahkan langka.
Sebagai contoh:
1. Fahmi Shahab dengan gagah berani mengklaim lagu ‘Kopi Dangdut’ sebagai karya ciptaanya.
Padahal, jelas2 lagu tersebut adalah sebuah lagu daerah asal Spanyol yg berjudul ‘Moliendo Café’. Anda bisa mencari di beberapa situs soal lagu ini. Silakan mendownload sendiri dan buktikan.
2. Lagu ‘Mbah Dukun’ yg dinyanyikan Alam kita akui saaangat… sangat ngetop berat. Tapi, apa yg membuat lagu ini ngetop?
Analisa saya, karena lagu ini memakai beat dan unsur musik rock/ metal (terserah, mau dibilang kreasi baru, atau mendompleng).
Juga karena, style entertainment Alam yg nekat meniru2 gaya Michael Jackson. Buat masyarakat dangdut, 2 hal tersebut mungkin luar biasa.
3. Sejak ngetopnya lagu ‘Mbah Dukun’ coba kita hitung lagu2 dangdut yg muncul selanjutnya. Rata2 lagu2 itu mencampur nuansa musik rock/ metal. Artinya, karena lagu ‘MD’ ngetop (baca: laris manis), maka para produser dari perusahaan rekaman yg berbeda2, ramai2 memproduksi lagu jenis serupa. Ingat lagu ‘Goyang Inul’? Pertanyaannya: Mana kreasinya?
4. Jujur saja saya akui, Inul Daratista jadi terkenal bukan karena kualitas vokal beliau, tapi karena goyangannya di atas panggung. Hal ini, kembali seperti yg saya jelaskan di atas, yg dijual oleh musik dangdut adalah beatnya untuk joget. Juga kemolekan tubuh2 penyanyinya (perempuan) yg terang2an diumbar.
5. Karena terlalu sederhananya daya kreasi masyarakat dunia dangdut, sangat lumrah bila musik ini mudah sekali dipahami oleh semua orang. Sedangkan, umumnya masyarakat seni, pasti mempunyai angan2 dan selalu berusaha menciptakan sesuatu yg baru atau yg belum pernah ada.
6. Ada 3 person masyarakat dangdut yg membuat saya kagum. Katakanlah, saya merekomendasikan karya2 3 orang ini utk didengarkan.
a. Rhoma Irama (Soneta). Tak banyak orang mengetahui, ternyata raja dangdut ini dulunya sebelum berkecimpung di dunia dangdut, beliau, ketika masih remaja dan masih tinggal di Medan adalah seorang gitaris spesial musik klasik. Kemudian, Rhoma remaja kepincut dengan sebuah band rock pada masa itu yaitu Deep Purple. Dia bersungguh2 mempelajari skill gitar blues Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) dan mengejawantahkannya ke dalam musik dangdut.
b. Camelia Malik. Kesungguhannya berkecimpung dalam musik dangdut sangat luar biasa. Lagu terakhirnya, ‘Cinta Rekayasa’ terdengar tidak “kacangan”. Mungkin karena latar belakang beliau dari Sumatra Barat yg sangat kental budaya Melayunya, sehingga karya2nya bukan cenderung dangdut India, tetapi lebih condong ke musik Melayu.
c. Evie Tamala. Lagu2 ciptaanya kerap memaki akord2 (kunci/ grip) yg tidak popular (tidak lazim). Seperti akord minor tujuh, mayor tujuh dan diminish. Hal ini saya temui ketika dapat order ngiringin Evie di sebuah acara. Saya benar2 kaget waktu ngulik lagu ‘Selamat Malam’ dan lagu ….. (duh, lupa judulnya) Evie bareng Henry Lamiri. Lagu terakhir yg saya sebutkan menurut saya fenomenal.
Mengapa? Karena lagu tersebut sangat berani tidak memakai instrumen gendang sebagaimana lazimnya lagu dangdut. Hanya gitar bolong, bass gitar dan biola. Tapi tetap kental warna dangdutnya. Hal semacam inilah yg menurut saya sebuah kreasi baru tanpa menghilangkan sifat aslinya.
Sebenarnya ada satu hal lagi yg bisa saya rekomendasikan, Yaitu lagu ‘Zakia’ karya Ahmad Albar dan Ian Antono. Tetapi karena dua orang tersebut aslinya bukan masyarakat dangdut jadi bisa kita kesampingkan.
Sekedar tambahan. Misalnya anda datang ke sebuah bar dangdut atau café remang2, coba iseng2 anda request. Minta bawain lagu ‘Zakia’. Kemungkinan besar request anda ditolak. Hehehehe.
Saya pernah mencoba, dan saya pernah bertanya, kenapa?
Alasan mereka: Ahmad Albar dan Ian Antono dulu pernah keceplosan mulut mengatakan, ‘musik dangdut adalah musik kampungan’. Masyarakat dangdutpun marah, termasuk sang adik Ahmad Albar sendiri yaitu Camelia Malik. Maka sebagai pernyataan menyesal, mereka berdua menciptakan lagu ‘Zakia’ itu. Tapi masyarakat dangdut tetap dendam. Rasaaaiiinnn!!!
7. Munafik! Banyak orang malu membicarakan musik ini. Banyak orang yg mengaku gengsi, tapi bila ada acara dangdut ikut goyang juga Walau sembari cengengesan.
8. Melihat point 1-7 di atas, wajar kalau kaum seniman (terutama anak2 band) sangat MALAS membicarakan musik dangdut.
9. Anda suka dangdut? Silakan berjoget. Jangan pedulikan omongan miring orang lain! Pesan saya, “Tetap kedepankan kreasi”
10. TARIIIIKKK MAAAANG!!!
Tambahan:
1. Untuk diketahui, pada masa 1960 – 1970, musik rock di benua Amrik dan Eropa juga mengalami nasib serupa sebagaimana dangdut di Indonesia. Bila di Indonesia, musik dangdut disebut musik kampungan, di Amrik dan Eropa sana, musik rock dicap sebagai musik orang2 terbuang. Sama2 dikucilkan gichu loooh!
2. Coba cari rekaman George Michael judulnya Hands To Mouth (album Faith). Pssst… ini lagu dangdut!
mengapa oh mengapa .....
orang2 malas membicarakan musik dangdhut....?
dari fifi yang asli kediri
sampai rita sugiarto....
ayo dong kita bahas.
sambil goyang.....
:banana: :hiphop: :banana: :hiphop:
ndak pakek.......
:headbang:
apalagi......
:fork:
Sebenarnya hal ini sudah pernah dibahas pada postingan sebelumnya. Tapi nggak ada salahnya kalo kita ulangi lagi. Paling menuh2in forum KL doang.
Mengapa orang agak segan membicarakan/ ngobrolin musik dangdut. Kalau jawabannya soal gengsi, itu karena manusianya sendiri yg mengkondisikan hal tersebut. Seandainya kita dengan santai ngebahas musik dangdut, tentu perasaan gengsi akan hilang dengan sendirinya.
OK. Terlepas dari suka atau tidak suka dengan aliran musik ini, di sini saya berusaha (mudah2an) untuk netral.
Saya akui, perkembangan musik dangdut memang pesat menyebar di semua kalangan, tapi sayangnya, daya kreasi pemusik dangdut sangat kurang. Yang dikedepankan oleh musik dangdut adalah beat/ iramanya saja. Bukan unsur2 lainnya, misalnya akord, running chord, tehknik pemain instrumennya, aransemen, dan masih banyak unsur lainnya.
Dalam musik dangdut, berbagi unsur tersebut tidak penting. Asal sebuah lagu dangdut bisa dipakai buat joget, maka lagu tersebut sudah dianggap memenuhi syarat.
Tetapi dalam jenis musik lain, berbagai unsur itu justru harus ada, agar terdengar jelas, bobot/ kadar keseriusan dari si pencipta/ penggarap musik. Inilah salah satu dari kekurangan musik dangdut, sehingga utk mengeksplorasi hal2 yg baru sangat minim, bahkan langka.
Sebagai contoh:
1. Fahmi Shahab dengan gagah berani mengklaim lagu ‘Kopi Dangdut’ sebagai karya ciptaanya.
Padahal, jelas2 lagu tersebut adalah sebuah lagu daerah asal Spanyol yg berjudul ‘Moliendo Café’. Anda bisa mencari di beberapa situs soal lagu ini. Silakan mendownload sendiri dan buktikan.
2. Lagu ‘Mbah Dukun’ yg dinyanyikan Alam kita akui saaangat… sangat ngetop berat. Tapi, apa yg membuat lagu ini ngetop?
Analisa saya, karena lagu ini memakai beat dan unsur musik rock/ metal (terserah, mau dibilang kreasi baru, atau mendompleng).
Juga karena, style entertainment Alam yg nekat meniru2 gaya Michael Jackson. Buat masyarakat dangdut, 2 hal tersebut mungkin luar biasa.
3. Sejak ngetopnya lagu ‘Mbah Dukun’ coba kita hitung lagu2 dangdut yg muncul selanjutnya. Rata2 lagu2 itu mencampur nuansa musik rock/ metal. Artinya, karena lagu ‘MD’ ngetop (baca: laris manis), maka para produser dari perusahaan rekaman yg berbeda2, ramai2 memproduksi lagu jenis serupa. Ingat lagu ‘Goyang Inul’? Pertanyaannya: Mana kreasinya?
4. Jujur saja saya akui, Inul Daratista jadi terkenal bukan karena kualitas vokal beliau, tapi karena goyangannya di atas panggung. Hal ini, kembali seperti yg saya jelaskan di atas, yg dijual oleh musik dangdut adalah beatnya untuk joget. Juga kemolekan tubuh2 penyanyinya (perempuan) yg terang2an diumbar.
5. Karena terlalu sederhananya daya kreasi masyarakat dunia dangdut, sangat lumrah bila musik ini mudah sekali dipahami oleh semua orang. Sedangkan, umumnya masyarakat seni, pasti mempunyai angan2 dan selalu berusaha menciptakan sesuatu yg baru atau yg belum pernah ada.
6. Ada 3 person masyarakat dangdut yg membuat saya kagum. Katakanlah, saya merekomendasikan karya2 3 orang ini utk didengarkan.
a. Rhoma Irama (Soneta). Tak banyak orang mengetahui, ternyata raja dangdut ini dulunya sebelum berkecimpung di dunia dangdut, beliau, ketika masih remaja dan masih tinggal di Medan adalah seorang gitaris spesial musik klasik. Kemudian, Rhoma remaja kepincut dengan sebuah band rock pada masa itu yaitu Deep Purple. Dia bersungguh2 mempelajari skill gitar blues Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) dan mengejawantahkannya ke dalam musik dangdut.
b. Camelia Malik. Kesungguhannya berkecimpung dalam musik dangdut sangat luar biasa. Lagu terakhirnya, ‘Cinta Rekayasa’ terdengar tidak “kacangan”. Mungkin karena latar belakang beliau dari Sumatra Barat yg sangat kental budaya Melayunya, sehingga karya2nya bukan cenderung dangdut India, tetapi lebih condong ke musik Melayu.
c. Evie Tamala. Lagu2 ciptaanya kerap memaki akord2 (kunci/ grip) yg tidak popular (tidak lazim). Seperti akord minor tujuh, mayor tujuh dan diminish. Hal ini saya temui ketika dapat order ngiringin Evie di sebuah acara. Saya benar2 kaget waktu ngulik lagu ‘Selamat Malam’ dan lagu ….. (duh, lupa judulnya) Evie bareng Henry Lamiri. Lagu terakhir yg saya sebutkan menurut saya fenomenal.
Mengapa? Karena lagu tersebut sangat berani tidak memakai instrumen gendang sebagaimana lazimnya lagu dangdut. Hanya gitar bolong, bass gitar dan biola. Tapi tetap kental warna dangdutnya. Hal semacam inilah yg menurut saya sebuah kreasi baru tanpa menghilangkan sifat aslinya.
Sebenarnya ada satu hal lagi yg bisa saya rekomendasikan, Yaitu lagu ‘Zakia’ karya Ahmad Albar dan Ian Antono. Tetapi karena dua orang tersebut aslinya bukan masyarakat dangdut jadi bisa kita kesampingkan.
Sekedar tambahan. Misalnya anda datang ke sebuah bar dangdut atau café remang2, coba iseng2 anda request. Minta bawain lagu ‘Zakia’. Kemungkinan besar request anda ditolak. Hehehehe.
Saya pernah mencoba, dan saya pernah bertanya, kenapa?
Alasan mereka: Ahmad Albar dan Ian Antono dulu pernah keceplosan mulut mengatakan, ‘musik dangdut adalah musik kampungan’. Masyarakat dangdutpun marah, termasuk sang adik Ahmad Albar sendiri yaitu Camelia Malik. Maka sebagai pernyataan menyesal, mereka berdua menciptakan lagu ‘Zakia’ itu. Tapi masyarakat dangdut tetap dendam. Rasaaaiiinnn!!!
7. Munafik! Banyak orang malu membicarakan musik ini. Banyak orang yg mengaku gengsi, tapi bila ada acara dangdut ikut goyang juga Walau sembari cengengesan.
8. Melihat point 1-7 di atas, wajar kalau kaum seniman (terutama anak2 band) sangat MALAS membicarakan musik dangdut.
9. Anda suka dangdut? Silakan berjoget. Jangan pedulikan omongan miring orang lain! Pesan saya, “Tetap kedepankan kreasi”
10. TARIIIIKKK MAAAANG!!!
Tambahan:
1. Untuk diketahui, pada masa 1960 – 1970, musik rock di benua Amrik dan Eropa juga mengalami nasib serupa sebagaimana dangdut di Indonesia. Bila di Indonesia, musik dangdut disebut musik kampungan, di Amrik dan Eropa sana, musik rock dicap sebagai musik orang2 terbuang. Sama2 dikucilkan gichu loooh!
2. Coba cari rekaman George Michael judulnya Hands To Mouth (album Faith). Pssst… ini lagu dangdut!