PDA

View Full Version : Mengapa Wilco disebut sebagai masa depannya musik.


Good Dog
30-03-2005, 04:42 PM
Mengapa Wilco disebut sebagai masa depannya musik.

Sukses besar menanti sebuah band yang seiring dan sejalan dengan fans
nya

oleh Lawrence Lessig utk WIRED, diterjemahkan oleh abang edwin sa

Pada tanggal 13 Februari, ribuan musisi dari seluruh dunia berkumpul di
Los Angeles pada acara Grammy Awards untuk merayakan musik di sepanjang
2005. Tapi perayaan tersebut tidak bisa menyembunyikan suasana perang
saat itu. Perusahaan rekaman (record labels) sedang terancam oleh
teknologi yang memungkinkan para fans untuk mengakses musik.
Organisasi-organisasi aktivis seperti Electronic Frontier Foundation and Public
Knowledge (dimana penulis kolom ini bekerja) menyerang balik. Mereka (kami)
menginginkan perang ini dihentikan dan juga serangan pada inovasi yang
diwakilinya.

Tapi tetap saja tidak bisa disembunyikan kemarahan yang sesungguhnya
pada kedua belah pihak dalam debat ini. Memang artis lah yang membuat
musik, bukan industri yang memasarkannya atau teknologi yang mengambilnya.
Tapi artis yang independen di industri ini sama langkanya dengan
anak-anak yang tidak ikut-ikutan tukar-barter musik di internet. Tentu saja
ada yang namanya "pemberontak" - mereka-mereka ini menciptakan sesuatu
yang baru dari sistem lama, yang kita semua tahu, bahwa mereka akan jadi
sukses, terlepas dari apa yang mereka lakukan sekarang. Mereka tidak
menanggung resiko, jadi omongan mereka juga kurang menggigit.

Sebuah band yang bernama Wilco dengan pemimpinnya yang pendiam, angker,
Jeff Tweedy, adalah sesuatu yang berbedaa. Setelah salah satu label
dari Warner, Reprise, memutuskan bahwa album keempat dari grup ini, Yankee
Hotel Foxtrot tidak bagus, Wilco langsung menendang si label dan
merilis album ini di internet. Label tersebut (Reprise) terbukti salah. Album
tersebut luar biasa, dan terjual habis yang diiringi oleh tur di 30
kota. Kesuksesan ini meyakinkan label lain yang juga dibawah Warner,
Nonesuch Records, untuk membeli kembali hak album tersebut seperti yang
dilaporkan, sebesar 3 kali dari harga aslinya. Internet membantu Wilco
untuk meraih kesuksesan. Tapi ketika mereka kembali ke Warner, banyak yang
bertanya-tanya: Apakah Wilco akan melupakan internet?

Kita sudah mulai melihat jawaban dari pertanyaan tersebut. Eksperimen
yang dilakukan oleh Wilco dengan internet berlanjut: pertama,
pertunjukan live melalui webcast MPEG-4; lalu sebuah dokumenter tentang Wilco
yang sebagian ditayangkan dan dibiayai via internet; dan juga bonus lagu
dan rekaman live yang dirangkai dalam CD. Album terakhir mereka, A Ghost
Is Born, telah disiarkan secara penuh lewat internet 3 bulan sebelum
dirilisnya iklan. Dan ketika lagu-lagu mereka mulai muncul pada
file-sharing networks (kazaa, bittorent, dll), mereka tidak mencegah fans nya
untuk mendownload. Malahan, fans Wilco mengumpulkan lebih dari $11,000
dan mendonasikannya ke badan amal mereka. Album mereka meraih sukses luar
biasa dan dinominasikan untuk dua Grammys.

Saya berkesempatan untuk menanyakan ke Tweedy tentang semua ini sebelum
konser mereka di Oakland, California (lucu kan, saya profesor dibidang
hukum yang nongkrong di WIRED, bisa tembus sampai bis mereka). Yang
paling berkesan adalah kejernihannya. Dia seperti seseorang yang dipaksa
untuk ikut perang yang tidak ia dukung. Walaupun begitu bukanlah
ideologi yang membuat dia seperti itu. Namun akal sehat.

"Musik itu berbeda dari intellectual property yang lain", begitu
jelasnya. "Bukan berarti berbeda macam Karl Marx - ini bukanlah komunisme
terpendam. Tapi bukan juga "sepotong plastik atau sepotong roti". Artis
mengontrol hanya sebagian dari proses pembuatan musik; pendengar yang
menambahkan selebihnya. Imajinasi dari para fans yang membuatnya menjadi
kenyataan. Partisipasi mereka yang membuatnya hidup. "Kami hanyalah
pengamen jalanan", kata Tweedy. "Pendengar adalah kolaborator kami. Kita
harus mendorong keikut-sertaan mereka, bukan malah memperlakukan mereka
seperti maling".

Dia mengutarakan semua ini dengan kegairahan seorang guru yang sedang
menjelaskan sebuah kebenaran yang paling mendasar tapi ketika saya
memintanya menjelaskan "ektremisme" dalam "perang" ini, seketika gairahnya
lenyap digantikan rasa tak percaya. Mengomentari keputusan untuk
melarang segala bentuk sampling musik tanpa lisensi, dia menyebutkan satu
kata: rasisme. Dan dia merasa ikut terkena kutukan oleh orang-orang yang
menggunakan pengadilan untuk menghukum fans mereka. "Kalau Metallica
masih juga memerlukan uang", ujarnya nyaris berbisik, "Maka ada sesuatu
yang benar-benar salah". Dia akan memprotes ekstremisme ini, jelasnya,
dengan menjalani hidup yang berbeda. Yaitu dengan mengundang, mencipta,
menginspirasi musik, dan tak menghiraukan perang plastik.

kalau perang ini harus diakhiri, diperlukan suara yang jernih. Kita
sudah jemu dengan kotbah. Amarah mulai luntur. Diperlukan band seperti
Wilco yang menjadi teladan, dan membisikkan penjelasan mereka pada yang
sudi mendengarkan. Damai itu perlu langkah nyata. Yang hanya bisa
dijalani oleh artis.

pistol_gombyok
06-04-2005, 11:46 PM
jangan lihat siapa bicara, tapi dengar apa katanya..... :chew: